Mobil Diasuransikan, Nyawa Malah Tidak

asuransi-mobil8.jpg lagiMaaf saya tidak tertarik sama asuransi jiwa. Kalau asuransi mobli sih punya. Demikian jawaban salah seorang kawan saya ketika saya tawari asuransi. Selain kawan saya, saya kira masih banyak yang punya pendirian serupa. Kenapa bisa demikian? Jawabannya ada dua: pertama, agen asuransi dikenal sebagai sosok yang nyebelin. Nelponin terus tak ada habis-habisnya. Tentu saya juga nyebelin kali, ya? Kedua, kebanyakan masyarakat kita memang belum paham tentang asuransi dan berbagai manfaatnya. Jangankan masyarakat kebanyakan, kaum terdidik pun masih banyak yang tak paham dengan asuransi. Pernah satu saat kawan saya yang tamatan S2 ketika saya tawari asuransi jiwa, ia menjawab: untuk apa saya buang-buang duit untuk asuransi. Untuk apa dapat uang tapi saya meninggal. Bagi yang punya jawaban semacam ini Saya telah menjelaskan menganai hal ini dalam artikel saya yang lain (Klik di sini).

Ok, kita kembali pada asuransi mobil. Kenapa orang mau mengasuransikan mobilnya coba? Karena orang itu sayang sama mobilnya sehingga ia takut dengan resiko misalnya mobilnya dicuri maling. Singkat kata, orang itu menganggap penting mobil tersebut dan ingin menghindari resiko atau paling tidak meminimalisir jika suatu hari terjadi apa-apa pada mobilnya. Betul, ya?

Nah, dengan analogi di atas, sekarang saya tanya, kenapa orang tak mau mengasuransikan nyawa-nya (asuransi jiwa)? Karena orang itu tidak sayang akan nyawanya, tidak menganggap nyawanya penting, dan tidak peduli dengan resiko yang mungkin terjadi atas nyawanya. Betul, ya? Ah, anda pasti bilang salah, kan? Yang benar anda sangat sayang dan menganggap sangat penting nyawa anda. Betul? sangat penting, ya? Saking merasa sangat pentingnya sehingga tak rela akan kehilangannya. Ketidakrelaan yang sangat tinggi ini membuat kita tak sadar atau pun mengabaikan bahwa sewaktu-waktu bisa saja ia diambil oleh-Nya. Ketidaksadaran ini tentu saja membuat kita abai akan berbagai resiko jika sewaktu-waktu nyawa ini diambil Tuhan.

Ini bukan saya yang ngomong lho, ya. Ini kata Rasulullah SAW. Inilah yang oleh Rasulullah SAW disebut dengan penyakit “WAHAN” yaitu: hubbuddunya wa karohiyatul maut (cinta dunia dan benci/melupakan kematian). Karena merasa belum mau mati atau bahkan lupa akan kematian, maka tak memikirkan resikonya. Maka dari itu juga asuransi jiwa dianggap tidak penting. Karena cinta dunia, cinta mobil, maka terbayang dengan jelas betapa besarnya kerugian dan resiko yang ditanggung jika sewaktu-waktu mobil hilang. Karena tidak cinta/benci/lupa kematian, maka sama sekali tidak terbayang bagaimana resiko yang terjadi jika sewaktu-waktu nyawa itu hilang.

Kesimpulan ini jelas analogi yang sangat logis, ya? Tapi kalau mau merenung sedikit kita pasti sadar bahwa ini tidak benar kan? Bukan logika analoginya yang tidak benar. Bukan pula karena bertentangan dengan kenyataan sehari-hari. Sekali lagi analoginya benar, dan ini juga benar-benar merupakan kenyataan sehari-hari. Yang tidak benar adalah prinsip dan nilai-nilainya. Prinsip yang sering dipakai oleh kebanyakan masyarakat (sadar maupun tidak) ini jelas bertentangan dengan nilai moral dan nilai agama. Bagaimana mungkin seorang yang beragama tidak menyadari akan kematian dengan berbagai resikonya? Bukankah orang beragama selalu diajarkan untuk menyiapkan bekal sebelum mati. Menyiapkan bekal berarti sadar akan kematian dan resikonya.

Ok, sekarang mari kita berpikir lurus sejanak. Jika kita bisa membayangkan dengan jelas resiko kehilangan mobil, mari kita sekarang coba bayangkan apa resiko kehilangan nyawa? Bagaiamana kalai kita besok misalnya meninggal? Masih punya utang, siapa yang akan bayar? Masih punya anak istri, siapa yang akan mengurusnya? Sementara kita tidak punya warisan yang cukup. Kematian kita bukan hanya menimbulkan duka dan kesedihan, tapi menimbulkan beban, menimpakan resiko.

Nah, di sinilah sebenarnya fungsi asuransi jiwa. Sekarang menjadi jelas siapa yang terpenting yang harus punya asuransi jiwa, ya? Kepala keluarga, penanggung nafkah utama. Betul sekali. Asuransi jiwa adalah salah satu bekal, disamping pahala, yang harus disiapkan oleh siapa pun yang merasa mau mati dan terutama keatiannya akan menimbulkan banyak resiko. Dengan kata lain, asuransi jiwa sebenarnya adalah program warisan. Dan, asuransi jiwa adalah bukti nyata cinta kita terhadap keluarga.[]

Jika Anda membuthkan asuransi terbaik,
Silahkan hubungi saya:

Tohirin
Hp: 081906091083, PIN BB: 7D14F433
Email: lagilagimasto@gmail.com

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Jiwa dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s