Tamatan S2 Kok Jualan Asuransi?

graduation08artmuseumTamatan S2 masa jualan asuransi? Barangkali demikian pandangan sebagian kawan-kawan saya ketika saya tawari produk asuransi. Saya menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Jurusan Peradilan Agama (jadi gelar S1 saya S.H.I : Sarjana Hukum Islam). Kemudian saya melanjutkan pendidikan S2 dengan mengambil jurusan Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun, Bogor (jadi gelar S2 saya M.Pd.I: Magister Pendidikan Islam). Dan sekarang saya jualan asuransi.

Demikianlah pandangan kebanyakan masyarakat kita terhadap profesi agen asuransi. Agen asuransi masih dipandang sebagai profesi yang menyedihkan, bahkan memalukan. Hal ini disebabkan oleh terutama 2 hal:

Pertama, masyarakat kita kebanyakan masih kurang, bahkan tidak paham dengan masalah asuransi sebagaimana yang telah saya singgung dalam beberapa artikel saya yang lain. Ketidakpahaman ini tentu saja membawa imbas terhadap cara pandang mereka terhadap seorang agen asuransi.

Kedua, masyarakat kita ternyata belum beranjak dari tipe masyarakat era industri. Salah satu tipe masyarakat ini adalah sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pekerja. Bahkan tujuan utama pendidikan adalah “untuk mencari pekerjaan”. Slogan yang dipakai adalah: sekolah yang tinggi dan carilah pekerjaan yang menjanjikan. Cita-cita tertingginya adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Masyarakat tipe ini adalah masyarakat yang cinta kemapanan, meski pas-pasan, takut menghadapi resiko, dan tergantung pada pihak lain.

Khusus di Indonesia ada tambahan spesial: FEODAL. Yah, masyarakat Indonesia ternyata belum bisa lepas dari feodalisme. Masyarakat tipe ini masih silau terhadap status dan jabatan. Orangtua lebih bangga anaknya menjadi guru meskipun hidupnya miskin umpanya, atau jadi lurah, bahkan jadi RT, ketimbang menjadi pedagang, menjadi sales misalnya yang secara gaji bisa jadi jauh lebih tinggi. Dan.. yang paling membanggakan adalah jika anaknya jadi PNS. Pokoknya punya jabatan dan status yang jelas. Makanya kawan saya yang menjadi tenaga marketing dibela-belain sambil kuliah S2 lagi gara-gara kepingin jadi dosen coba. Padahal pendapatannya sudah jauh melebihi dosen. Katanya masih ada yang kurang. Statusnya tidak bergengi di mata masyarakat. Kalau ditanya: pekerjaan apa? Saya dosen! Wah, wah… kan keren, ya?

Kawan saya yang lain juga menjadi korban masyarakat feodal. Sebelumnya dia berprofesi sebagai wartawan. Gajinya lumayan, apalagi kalau pas dapet iklan dan sampingan-sampingan lain. Dan yang lebih menyenangkan katanya adalah waktunya lebih bebas. Tapi bagi orangtuanya mana tau bagaimana seorang wartawan? Orangtuanya menyuruhnya untuk daftar menjadi hakim. Wahh… profesi hakim coba? Ini bukan hanya prestisius, tapi jelas sangat luar biasa dibanggakan dan dihargai di mata masyarakat.

Akhirnya dia daftar, dan diterima. Dia memang telah berhasil membanggakan orangtua, tapi dia katanya merasa berat menjalani profesi itu. Di samping pendapatanya kalah besar dengan ketika menjadi wartawan, profesi itu juga sangat mengikat dirinya. Dia bilang hakim adalah profesi yang sunyi. Belum lagi dia harus khawatir setiap kali harus menghadapi mutasi yang tak menentu. Dan yang lebih tidak mengenakan adalah sering jauh dari keluarga, waktunya sangat terikat.

Oleh karena itu, profesi agen asuransi banyak diambil oleh kawan-kawan Tionghoa. Kebanyakan dari mereka tak tertarik untuk menjadi PNS. Rata-rata buka usaha sendiri. Dan diantara mereka yang menjadi agen asuransi telah mencapai posisi puncak dengan penghasilan ratusan juta rupiah per bulan. Mereka sadar. Dunia ini telah berubah. Indonesia sedang bergerak ke arah era informasi.

Dalam masyarakat ini, warga negara harus mandiri. Menjadi wirausaha adalah profesi utama masyarakat ini. Membuka usaha sendiri, meniti karir sendiri, dan mencapai kebebasan finansial adalah cita-cita utama masyarakat ini. Dalam masyarakat tipe ini, pendidikan tinggi bukan lagi jaminan untuk mencapai keberhasilan. Mereka yang kreatif, kaya informasi, dapat memanfaatkan peluang, mau bekerja keras dan cerdas adalah mereka yang akan mencapai keberhasilan. Tamatan bukan lagi jaminan. Bahkan tidak sedikit mereka yang tamatan tinggi malah menjadi karyawan untuk para bos yang hanya tamatan rendahan.

Nah, kembali pada masalah tamatan S2 sebagai agen asuransi. Bagi saya justru malah bagus. Seharusnya agen asuransi malah harus berpendidikan. Seperti yang telah saya uraikan dalam tulisan saya yang berjudul; Tugas Utama Agen Asuransi selain Jualan, menjadi agen asuransi juga berarti sebagai konsultan bagi nasabah. Saat mau menjual sebuah produk misalnya, pasti tidak cukup hanya sekadar menawarkan barang, kemudian pembeli melihat-lihat dan lantas membelinya.Produk asuransi adalah produk kasat mata. Jadi seorang agen harus banyak wawasan dan memahami betul seluk-beluk produk itu.

Singkatnya, produk asuransi adalah ilmu pengetahuan. Sebelum membeli nasabah pasti akan tanya ini itu terkait dengan manfaat asuransi itu. Bahkan banyak sekali yang tidak paham sengan asuransi sehingga mau tidak mau seorang agen katakanlah harus mendidik nasabah tentang asuransi. Nah, jadi jelas di sini bahwa agen asuransi harus luas wawasan dan berpengetahuan (well educated). Berpendidikan tinggi kemudian menjadi agen asuransi jutsu sangat disarankan (recomended).

Demikian, semoga bermanfaat.[]

Jika belum jelas, saya senang hati untuk membantu Anda.
Silahkan hubungi saya:

Tohirin
Hp: 081906091083, PIN BB: 7D14F433
Email: lagilagimasto@gmail.com

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Agen asuransi, Catatan Perjalanan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Tamatan S2 Kok Jualan Asuransi?

  1. Asep Sopyan berkata:

    Sukses, Master. Luar biasa!

  2. Ping balik: Ingin Jadi Agen Asuransi? Ini Caranya | Asuransi Jiwa dan Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s