Tips Mengatur Gaji Sebulan

gajiGaji/rizki yang kita terima setiap bulannya adalah amanah dari Allah SWT. Karenanya rizki itu harus kita belanjakan dengan baik. Mengatur keuangan (perencanaan keuangan) harusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam diri seorang mukmin. Allah jelas membenci perilaku boros, apalagi membelanjakan harta pada hal-hal yang diharamkan. Bagi yang mempunyai gaji bulanan, pengaturan uang ini bisa dibuat perencanaan bulanan. Bagi yang pendapatannya tidak bulanan bisa menyesuaikan dengan kebutuhan bulanannya.
Tulisan ini saya tujukan untuk masyarakat awam (dalam arti positif) yang belum terbiasa atau malah tidak tahu dan tidak pernah memikirkan tentang perencanaan keuangan, mengatur keuangan, atau apa pun istilahnya yang intinya adalah: bagaimana membelanjakan rizki yang kita dapat sebaik mungkin sesuai dengan aturan Allah. Kalau dalam istilah al-Quran ini disebut dengan istilah “nafaqah-infaq fii sabilillah” (terjemahan bebasnya menurut saya ya “perencanaan keuangan” itu.

Berkenaan dengan masalah pengaturan keuangan, kita mengenal arus kas yaitu: pemasukan dan pengeluaran. Kemudian untuk pengeluaran umumnya hanya mengenal 2 hal: pertama, pengeluaran konsumtif. Yaitu kebutuhan sehari-hari yang terdiri dari: kebutuhan pokok (makan, minum, tempat tinggal, dan pakaian), bayar hutang, dan bersenang-senang. Kedua, menabung, yaitu dana cadangan sebagai dana darurat dan perencanaan masa depan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang yang sewaktu-waktu dapat diambil/digunakan jika dibutuhkan.

Diantara semua kebutuhan ini terkadang (bahkan lebih sering) tak tak ada prioritas dan berapa prosentase masing-masing alokasinya secara proporsional. Jadi asal punya uang pokoknya mah pakai aja sesuai prioritas keinginan. Bahkan yang kedua, menabung, malah sering tidak kebagian. Inilah yang kemudian menyebabkan keuangan rumah tangga kacau alias: besar pasak daripada tiang. Menggunakan harta dengan cara seperti ini tentu tidak sesuai dengan prinsip amanah dalam ajaran Islam, bahkan ajaran agama mana pun.
Lantas, bagaimana cara kita mengatur keuangan? Pertama-tama kita harus tau macam-macam biaya hidup sehari-hari berikut prioritasnya. Biaya hidup terbagi ke dalam:

Pertama, biaya yang harus dikeluarkan saat itu juga atau pengeluaran pokok. Termasuk dalam kelompok ini adalah kebutuhan makan, minum, tempat tingga, dan membayar hutan.

Kedua, biaya tak terduga/dana darurat, yaitu biaya untuk kebutuhan jangka pendek dan menengah, baik yang secara umum sudah diketahui sebelumnya atau yang bersifat tentatif. Termasuk dalam kelompok ini adalah kebutuhan menyekolahkan anak, belanja baju, jalan-jalan, dan lain-lain .

Ketiga, biaya proteksi, yaitu dana darurat untuk kebutuhan yang tak bisa diprediksi waktu kedatangannya dan membutuhkan biaya dan resiko yang besar. Termasuk dalam kelompok ini adalah: sakit (terutama sakit kritis), kecelakaan, meninggal dunia.
Keempat, biaya masa depan, yaitu biaya untuk kebutuhan jangka panjang/masa depan. Termasuk dalam kelompok ini adalah penyiapan dana pensiun.

Keempat, biaya jangka panjang, yaitu dana yang dipersiapkan untuk masa depan. Termasuk dalam kelompok ini adalah penyiapan dan pensiun.

Untuk memudahkan, berbagai jenis kebutuhan di atas dapat kita simpulkan ke dalam 6 macam kebutuhan yaitu: infaq, kebutuhan pokok, hutang, menabung, proteksi/asuransi, dan investasi. Nah, untuk mengatur pembelanjaan keuangan, yang paling sederhana begini. Begitu kita menerima gaji, maka siapkan amplop sebanyak 6 biji. Beri nama masing-masing: INFAQ, KEBUTUHAN POKOK, HUTANG, TABUNGAN, ASURANSI, INVESTASI. Sesudah itu masukkan uang ke dalam masing-masing amplop dengan prosentase sebagai berikut:

  1. IFAQ : 2,5 % dari total gaji.
  2. KEBUTUHAN POKOK : 50 % dari sisa total gaji setelah dipotong infaq.
  3. HUTANG : 20 % dari sisa total gaji setelah dipotong infaq.
  4. NABUNG : 10 % dari sisa total gaji setelah dipotong infaq.
  5. ASURANSI : 10 % dari sisa total gaji setelah dipotong infaq.
  6. INVESTASI : 10 % dari sisa total gaji setelah dipotong infaq.

Untuk lebih jelasnya, mari kita buat simulasi. Misalnya kita punya gaji Rp 3.000.000 per bulan, maka penghitungannya adalah sebagai berikut:

  1. INFAQ : 2,5 % X 3.000.000 = 75.000
    Sisanya berarti : 3.000.000 – 75.000 = 2.925.000.
  2. KEBUTUHAN POKOK : 50 % X 2.925.000 = 1.462.500.
  3. HUTANG : 20 % X 2.925.000 = 585.000.
  4. NABUNG : 10 % X 2.925.000 = 292.500.
  5. ASURANSI : 10 % X 2.925.000 = 292.500.
  6. INVESTASI : 10 % X 2.925.000 = 292.500

Nah, masalahnya adalah tidak ada asuransi dengan preminya: Rp 292.000 per bulan. Minimal asuransi per bulan Rp 300.000. Solusinya adalah:

  1. Ambil dari pos yang lain (kurangi pos lain). Misalnya ambil Rp 75.000 bisa dari TABUNGAN atau INVESTASI untuk menggenapi pos ASURANSI.
  2. Ambil yang triwulanan (Rp 625.000), atau semesteran (Rp 1.000.000).
  3. Gabung antara ASURANSI dan INVESTASI dalam satu wadah, dengan mengambil produk asuransi TAPRO (Tabungan Proteksi), sehingga pos untuk keduanya total: Rp 585.000.

Sebagai catatan tambahan, menurut para pakar perencana keuangan, pos hutang tidak boleh melebihi 30 % dari total pendapatan. Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.[]

Butuh bantuan?
Silahkan hubungi saya:

Tohirin
081906091083, PIN BB: 53E91F32
Email: lagilagimasto@gmail.com

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s