Hukum Asuransi dan Menjadi Agen Asuransi

hukum asuransiBagaimana hukum asuransi? Demikian salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya baik dari calon agen maupun calon nasabah asuransi. Yang dimaksud dengan hukum ini adalah menurut hukum Islam, karena saya tau penanya beragama Islam dan kebetukan basic pendidikan saya juga hukum Islam (S1). Kemudian yang saya maksudkan dalam jawaban saya di sini juga asuransi Islam atau yang lebih dikenal dengan asuransi syariah.  Saya sendiri adalah agen asuransi syariah, tepatnya Allianz Syariah.

Dengan mengetahui bahwa asuransi yang saya maksudkan adalah asuransi syariah, maka secara otomatis sebenarnya itu sudah merupakan jawaban. Namanya saja asuransi syariah alias asuransi Islam, maka secara otomatis sudah memenuhi standar-standar yang dibolehkan dalam hukum Islam. Dengan kata lain sudah ada jaminan dari para pakar hukum Islam tentang kehalalan jenis asuransi ini

Namun demikian, rasanya tidak puas jika tidak dijelaskan bagaimana seluk-beluk asuransi syariah ini sehingga dihukumi halal. Umumnya masyarakat masih salah paham terhadap asuransi, masih awam, bahkan tak jarang yang antipati. Alasannya macam-macam. Ada yang mengkatagorikan asuransi itu gambling, sehingga mirip dengan judi, ada yang bilang bahwa asuransi jiwa itu menentang takdir, jual janji belaka, dan banyak lagi kesalahpahaman yang terjadi.

Baiklah, saya akan memulai dari 2 (dua) pertanyaan dasar: “Mengapa ada asuransi?” dan “Apa tujuan utama asuransi?” Bicara asuransi adalah bicara tentang resiko dan dampaknya. Dalam kehidupan ini, manusia tentunya tak bisa lepas dari yang namanya resiko hidup. Resiko hidup yang dimaksudkan dalam konteks asuransi meliputi: sakit, kecelakaan, dan kematian. Ketiga resiko ini seringkali tidak hanya berdampak pada orang yang bersangkutan, tapi juga pada orang-orang di sekitarnya.

Nah, menghadapi semua resiko itu, tentunya sangat baik, bahkan harus agar kita mempunyai kesiapan yang memadai. Umat Islam diperintahkan untuk menyiapkan masa depannya dan menghadapi hal-hal yang memungkinkan terjadi di masa depan dengan persiapan yang matang. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Dalam ayat lain Allah juga berpesan agar kita tidak meninggalkan anak keturunan kita dalam kondisi yang lemah, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa [4]: 9).

Kemudian Nabi Muhammad SAW, dari Ibn Abbas RA, bersabda:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya: Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain, yaitu: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Nah, dalam konteks ini, asuransi adalah sarana yang tepat untuk menyiapkan salah satu aspek penting yang memungkinkan dan pasti akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan mengikuti asuransi kesehatan misalnya, berarti seseorang telah bersiap diri saat sehat sebelum sakit. Kemudian dengan ikut asuransi jiwa, maka berarti ia sudah mencadangkan warisan untuk anak cucunya sehingga tidak meninggalkan mereka dalam kondisi lemah secara ekonomi.

Namun demikian, sebenarnya ada banyak cara untuk menyiapkan dana masa depan selain asuransi. Mislanya bisa dengan cara nabung, jual aset, pijam ke saudara atau tetangga misalnya. Namun pertanyaannya adalah sejauh mana sarana-sarana itu efektif dan solutif untuk menghadapi ketiga jenis resiko sebagaimana yang telah disebutkan di atas?

Baiklah, mari kita mulai dengan menabung. Dengan cara ini berarti kita harus menyimpan sejumlah uang untuk persiapan jika sewaktu-waktu ketiga resiko itu terjadi. Permasalahannya adalah kita tidak tau persis kapan ketiga resiko itu terjadi. Apalagi acapkali ketiganya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pertanyaannya, berapa besar kita bisa menabung? Bagaimana jika salah satu dari ketiga resiko itu terjadi saat tabungan kita masih jauh dari cukup? Dengan kata lain, menabung tidak dapat menjadi solusi yang tepat untuk menghadapi ketiga resiko ini.

Mari kita lanjut dengan menjual aset. Bagi yang punya banyak aset ini tentunya dilakukan. Masalahnya kebanyakan orang tak punya aset yang memadai. Bahkan bagi mereka yang punya aset pun banyak diantaranya yang jatuh bangkrut pada saat terserang penyakit kritis. Lagipula kebanyakan orang tidak punya cukup aset dan bersikap lebih menyayangi aset kekayaannya ketimbang dijual untuk sekedar biaya rumah sakit misalnya. Jadi dalam konteks ini, menjual aset tidak menjadi solusi yang tepat.

Selanjutnya adalah pinjam orang lain. Rasanya untuk yang satu ini tak perlu dipanjanglebarkan kan ya? Anda pasti sudah tahu betapa tidak mudahnya untuk cari pinjaman dalam jumlah yang besar. Lagipula juga harus menahan rasa malu, kan? Belum lagi kalau bicara bagaimana nanti bayarnya. Jelas ini bukanlah solusi yang tepat.
Nah, lantas solusi macam apa yang kita butuhkan.

Yang kita butuhkan adalah bagaimana kita mendapat uang yang memadai sewaktu-waktu ketiga resiko itu terjadi. Sekali lagi sewaktu-waktu. Meski misalnya lima hari berikutnya, sebulan berikut, dan seterusnya. Asalkan uang itu bukan dari jual aset dan bukan minjem. Apakah ada cara? Ada. Caranya adalah dengan patungan. Kita berkumpul untuk patungan dan satu sama lain niat untuk menolong saudaranya yang mengalami musibah di atas. Makin banyak yang patungan tentunya dana yang disiapkan juga makin besar.

Nah, yang terakhir inilah yang disebut dengan asuransi. Secara formal, Dewan Syariah Nasional MUI (DSN MUI) mendefinisikan asuransi sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Selanjutnya menurut kitab Al Ma’ayir Al Syar’iyah (Sharia Standards) yang dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) edisi tahun 2010 disebutkan bahwa :

التأمين الإسلامي هو اتفاق أشخاص يتعرضون لأخطار معينة على تلافي الأضرار الناشئة عن هذه الأخطار، وذلك بدفع اشتراكات على أساس الإلتزام بالتبرع، ويتكون من ذلك صندوق التأمين له حكم الشخصية الإعتبارية، وله ذمة شخصية مستقلة، (صندوق) يتم منه التعويض عن الأضرار التي تلحق أحد المشتركين من جراء وقوع الأخطار المؤمن منها
(المعايير الشرعية 2010، ص 364)

“Asuransi Islami adalah kesepakatan sejumlah orang yang menghadapi risiko-risiko tertentu dengan tujuan untuk menghilangkan bahaya-bahaya yang muncul dari risiko-risiko tersebut, dengan cara membayar kontribusi-kontribusi berdasarkan keharusan tabarru’ (hibah), yang darinya terbentuk dana pertanggungan –yang mempunyai badan hukum sendiri dan tanggungan harta independen– yang darinya akan berlangsung penggantian (kompensasi) terhadap bahaya-bahaya yang menimpa salah seorang peserta sebagai akibat terjadinya risiko-risiko yang telah ditanggung.”

Jadi jelas sekali bahwa prinsip dasar asuransi adalah tolong-menolong. Betul, ya? Lantas apakah tolong-menolong ini dilarang agama atau malah dianjurkan? Jelas dianjurkan, ya? Ini tertulis jelas dalam firman Allah:

“Saling menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan janganlah saling menolong dalam hal kejahatan).” [QS. Al Maidah [5]: 2].

Nah, kalau begitu asuransi dilarang apa malah dianjurkan Islam? Tepat sekali. Bukan hanya boleh dan halal, tapi justru dianjurkan. Dan menjadi agen asuransi juga jelas halal hukumnya. Melengkapi pembahasan ini Anda juga saya sarankan membaca tulisan saya yang berjudul: Benarkan Asuransi Itu Menjual Janji? KLIK DI SINI.

Demikian, semoga bermanfaat. Selamat berasuransi.[]
Jika butuh bantuan jangan sungkan hubungi saya:

Tohirin
081906091083, PIN BB: 53E91F32

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s