Hukum Asuransi Konvensional, Benarkah Haram?

hukum asuransi apaAsuransi merupakan salah satu obyek transaksi yang sering menjadi polemik. Ada yang mengatakan asuransi itu halal, ada juga yang mengharamkan. Kemudian juga muncul asuransi syariah. Seiring dengan polemik tersebut berbagai pendapat juga bermunculan. Apalagi ketika sekarang metodologi hukum Islam (Ushul Fiqh) dihadapkan dengan dunia modern. Beberapa ulama pun mencetuskan metode baru yang dianggap relevan dengan perkembangan zaman. Tak pelak, di sana-sini muncul perbedaan. Apakah ini memperkeruh keadaan? Hemat saya tidak. Ini adalah suatu keniscayaan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan di satu sisi, banyaknya pandangan ini dapat menjadi alternatif bagi orang awam untuk memilih suatu pendapat yang lebih membawa kemashlahatan.

Kali ini saya akan menurunkan sebuah artikel serius mengenai hal di atas. Ini bukan tulisan saya. Tapi hasil telaah serius leader saya dan guru asuransi saya: Bapak Asep Sopyan. Kebetulan kami juga pernah sama-sama mengenyam pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, sebelum kemudian kami juga sama-sama menjadi agen asuransi Allianz syariah. Berikut ini tulisannya:

Dalam buku-buku teks tentang asuransi syariah, asuransi konvensional selalu dihukumi haram karena dianggap mengandung maysir (judi), gharar (ketidakjelasan), dan riba (bunga utang/pinjaman). Selain itu masih terdapat beberapa tuduhan lainnya, seperti adanya unsur penganiayaan, tujuannya hanya mencari keuntungan, dan adanya akad penundukan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Benarkah demikian?

Ketika saya membaca alasan-alasan yang dikemukakan para penulis buku asuransi syariah, di benak saya sering timbul bantahan, “Kayaknya gak gitu deh.”

Artikel ini membeberkan apa yang ada di benak saya tersebut. Saya akan mulai dari pendapat-pendapat yang mengharamkan asuransi konvensional, dilanjutkan dengan tanggapan saya atas pendapat-pendapat tersebut.

BENARKAH ASURANSI KONVENSIONAL ITU JUDI?

Afzalur Rahman (Sula, 2004: 99), dalam bukunya Doktrin Ekonomi Islam menyebut bahwa terdapat kemiripan yang sangat dekat antara kontrak asuransi konvensional dan perjudian. Pada keduanya, sejumlah taruhan (besarnya kontrak) dibayarkan kepada orang yang bertaruh (peserta asuransi) apabila terjadi peristiwa tertentu. Dalam hal tidak terjadi risiko, tidak ada yang dibayarkan kepada orang yang bertaruh (sejumlah besarnya taruhan). Keduanya itu terdapat pada asuransi konvensional dan judi taruhan. Bagaimana pertaruhan (juga bahaya yang ditimbulkan dalam asuransi konvensional) benar-benar akan terjadi dan siapakah yang akan keluar sebagai pemenangnya, para petaruh (juga dalam asuransi asuransi konvensional) ataukah penyelenggara (pengusaha asuransi) merupakan tanda tanya.

Lebih lanjut, menurut Rahman, uang premi pada asuransi konvensional sama persis dengan uang taruhan dalam perjudian jika dikaitkan dengan yang mereka lakukan. Pendapatan bagi bandar judi atau pengusaha asuransi konvensional selalu dapat dipastikan. Adapun bagi petaruh (peserta asuransi) masih diragukan; mungkin menerima, mungkin tidak. Secara keseluruhan, bandar melawan penjudi, pengusaha asuransi melawan peserta asuransi, selalu di pihak yang menang.

Syekh Husain Hamin Hisan (Sula, 2004: 99) berkata bahwa akad judi dan taruhan merupakan akad mu’awadhah karena masing-masing pihak yang berjudi dan bertaruh jika memperoleh kemenangan, maka kemenangan tersebut sebagai pengganti dari kemungkinan ia kalah. Dan jika memperoleh kekalahan, maka kekalahan tersebut sebagai pengganti kemungkinan menang. Semuanya ini sama dengan akad asuransi. Ketika tidak terjadi peristiwa yang diasuransikan, maka premi-premi yang diperolehnya sebagai pengganti dari kemungkinan kalah yang diketahui dengan kejadian peristiwa. Dan sebagai pengganti dari kemungkinan menang yang diketahui dengan tidak terjadinya peristiwa.

Muhammad Ayub (Ayub, 2009: 637) memaparkan bahwa asuransi konvensional melibatkan judi dalam arti transaksi yang keuntungan moneternya hanya berasal dari peluang, spekulasi, serta dugaan belaka dan bukan dari bekerja, mengambil tanggung jawab, atau bisnis sektor riil. Perusahaan penjamin menerima premi dan akan mengganti rugi kerugian atau kerusakan pada kehidupan atau harta benda yang diasuransikan. Perusahaan dapat mengalami surplus atau defisit jika klaimnya lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan premi yang diterima. Karena adanya kemungkinan surplus dan defisit ini, Ayub menganggap salah satu pihak mendapatkan keuntungan dengan merugikan pihak lain.

Pakar ekonomi syariah asal Indonesia, Syafii Antonio (Sula, 2004: 51), menjelaskan bahwa unsur judi dalam asuransi konvensional artinya ada satu pihak yang untung, namun di pihak lain justru mengalami kerugian. Lebih rinci, unsur judi itu terjadi dalam tiga hal:

Ketika seorang pemegang polis mendadak kena musibah sehingga memperoleh hasil klaim, padahal baru sebentar menjadi klien asuransi dan baru sedikit membayar premi. Jika ini terjadi, nasabah diuntungkan.

Sebaliknya, jika hingga akhir masa perjanjian tidak terjadi sesuatu, sementara ia sudah membayar premi secara penuh/lunas, maka perusahaanlah yang diuntungkan.
Apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja, bahkan uangnya dianggap hangus.

Masih banyak lagi para pakar yang berpendapat asuransi konvensional itu sama dengan judi. Jika diringkas, unsur judi pada asuransi konvensional terdapat pada tiga hal:

Adanya premi yang disetarakan dengan uang taruhan, dan uang pertanggungan yang disetarakan dengan hadiah untuk pemenang judi, di mana uang pertanggungan akan diberikan kepada pembayar premi jika terjadi peristiwa tertentu, dan tidak dibayarkan jika tidak terjadi peristiwa tertentu.

Adanya keuntungan yang diperoleh dari spekulasi atau permainan peluang (yaitu kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tertentu), bukan dari bekerja keras atau bisnis riil. Adanya keuntungan di satu pihak (pemenang) dan kerugian di pihak lain (yang kalah).

TANGGAPAN

Sebelum menyimpulkan apakah asuransi (konvensional) sama dengan judi, baiknya kita pahami dulu apa sebenarnya judi dan apa sebenarnya asuransi.

Pengertian Judi

Judi adalah permainan peluang atau tebak-tebakan yang memakai taruhan dengan imbalan sejumlah hadiah, di mana pihak yang menang akan mendapat hadiah dan pihak yang kalah akan kehilangan uang atau barang taruhan.

Permainan peluang berarti segala usaha yang sepenuhnya mengandalkan spekulasi atau untung-untungan, bukan melalui keahlian atau bekerja. Kalaupun ada unsur keahlian, unsur spekulasinya jauh lebih besar daripada unsur keahliannya.

Tebak-tebakan termasuk permainan peluang, sengaja disebut secara khusus karena sebagian besar judi tak lebih dari tebak-tebakan belaka. Contohnya tebak nomor togel, tebak angka dadu, tebak pemenang pacuan kuda, tebak skor pertandingan bola, dan tebak jenis kelamin seorang bayi.

Beberapa jenis judi agak mengandalkan keahlian atau pengalaman, seperti permainan kartu dan permainan ketangkasan. Trading saham dan forex (mata uang asing) bisa jadi judi jika unsur spekulasinya lebih mendominasi. Bahkan menaruh uang dalam sebuah investasi atau bisnis yang tidak jelas pun dekat sekali dengan judi.

Judi selalu memakai taruhan, bisa berupa uang atau barang sesuai kesepakatan. Uang taruhan ini akan menjadi hadiah bagi yang menang, baik secara langsung atau melalui penyelenggara (bandar), sehingga yang kalah akan mengalami kerugian sejumlah uang yang dipertaruhkan. Adanya taruhan ini membedakan judi dari permainan peluang dan tebak-tebakan berhadiah lainnya.

Pengertian Asuransi Konvensional

Asuransi (konvensional) adalah perjanjian di antara tertanggung dan penanggung, di mana pihak tertanggung menyerahkan sejumlah uang premi kepada penanggung, dan sebagai balasannya pihak penanggung memberikan perlindungan keuangan kepada tertanggung atas suatu risiko yang mungkin terjadi pada diri atau harta tertanggung.

Tertanggung adalah peserta asuransi atau nasabah, penanggung adalah perusahaan asuransi. Tertanggung bisa saja orang-pribadi, sekumpulan orang, atau badan usaha. Sedangkan penanggung selalu merupakan perusahaan asuransi atau reasuransi.

Premi diserahkan oleh tertanggung kepada penanggung untuk ditukar dengan perlindungan keuangan yang besarnya disekapati. Besarnya premi yang dibayarkan tertanggung dan perlindungan keuangan yang diberikan penanggung dihitung oleh perusahaan asuransi berdasarkan rumus tertentu, dengan memperhitungkan statistik kejadian, biaya operasional, dan keuntungan.

Risiko yang dipertanggungkan dalam asuransi dibatasi oleh kriteria tertentu, antara lain memiliki dampak keuangan kepada diri tertanggung atau keluarganya. Contoh risiko yang biasanya dipertanggungkan dalam asuransi jiwa: meninggal dunia, sakit rawat inap, penyakit kritis, cacat atau meninggal karena kecelakaan, dan cacat tetap total. Contoh risiko yang dipertanggungkan dalam asuransi kerugian: kerusakan barang, kehilangan kendaraan, kebakaran rumah, dan kerugian akibat gugatan pihak ketiga.

Dampak keuangan dari suatu risiko mungkin tergolong ringan sehingga bisa ditanggung sendiri, atau cukup berat sehingga tidak bisa ditanggung sendiri. Seseorang dapat memilih apakah akan menanggung sendiri risikonya, ataukah mengalihkannya ke pihak lain yang lebih kuat, yaitu perusahaan asuransi. Bagi orang yang menyadari beratnya dampak dari suatu risiko, pada dirinya akan timbul suatu kebutuhan untuk mengalihkan dampak keuangan dari risiko tersebut ke perusahaan asuransi. Jadi, asuransi adalah kebutuhan, yang jika tidak dipenuhi, bisa berbahaya bagi kondisi keuangan seseorang.

Perbedaan Judi dengan Asuransi

Dari pengertian judi dan asuransi di atas berikut penjelasannya, apakah anda menemukan kesamaan antara judi dan asuransi?

Berbeda dari yang sekilas tampak, saya pribadi justru menemukan banyak sekali perbedaan. Bukan hanya perbedaan, tapi pertentangan. Judi dan asuransi adalah bertolak-belakang dalam banyak hal.

Mari kita lihat perbandingan-perbandingan berikut ini:

Unsur spekulasi. Sekilas, judi dan asuransi sama-sama mengandung unsur spekulasi atau permainan peluang, tapi unsur spekulasi pada judi adalah spekulasi murni tanpa dasar sama sekali, semata-mata tebak-tebakan. Sedangkan unsur spekulasi pada asuransi melibatkan sejumlah data statistik kejadian dan tugas perusahaan asuransi adalah memperbanyak jumlah nasabah supaya rasio klaimnya mendekati kenyataan di lapangan. Ini sesuai dengan hukum bilangan besar (the law of large number) yang mendasari cara kerja asuransi.

Dari sini, kita bisa melihat perbedaan lainnya, yaitu: Judi bisa dilakukan oleh satu orang, dua orang, sejumlah orang, atau melalui penyelenggara. Sedangkan asuransi hanya bisa diikuti oleh banyak orang, semakin banyak semakin baik. Jika asuransi diikuti oleh sedikit orang saja, itulah baru judi namanya. Asuransi yang dilakukan para artis dan bintang olahraga dunia, yaitu mengasuransikan bagian tubuh mereka yang paling berharga seperti rambut, mata, bibir, betis, hingga kaki, mungkin dapat dikategorikan judi karena statistik kejadiannya tidak mendukung. Tapi tetap perlu dilihat segi-segi lainnya seperti akan disebut di bawah ini, karena satu kesamaan saja tidak cukup untuk menyamakannya secara keseluruhan.

Hakikat. Hakikat judi adalah spekulasi atau untung-untungan, sedangkan hakikat asuransi adalah perlindungan. Dalam judi, orang-orang menebak sesuatu dan mereka berharap tebakannya benar supaya mendapatkan keuntungan. Sedangkan dalam asuransi, orang tidak sedang menebak apakah ia akan kena musibah atau tidak, dan ia pun tidak berharap mendapat musibah. Ia hanya tahu bahwa musibah itu mungkin terjadi, dan jika terjadi ia membutuhkan bantuan keuangan untuk menanggulanginya. Itu saja.
Tujuan. Judi bertujuan melipatgandakan kekayaan atau mendapatkan keuntungan, sedangkan asuransi bertujuan untuk melindungi kekayaan, bukan mencari keuntungan. Dalam asuransi umum dan asuransi kesehatan ada prinsip yang disebut indemnity, yaitu tertanggung hanya bisa mendapatkan penggantian maksimum sebesar kerugian yang dia alami atau sebatas manfaat yang dia terima. Misalnya nasabah memiliki produk asuransi kesehatan dengan limit tahunan 150 juta. Suatu saat dia dirawat dengan menghabiskan biaya 100 juta, maka maksimum penggantian yang diterimanya adalah 100 juta. Lalu jika di tahun yang berbeda dia harus operasi besar sehingga membutuhkan biaya 200 juta, maksimum yang diganti asuransi adalah 150 juta. Dengan kata lain, asuransi bukan tempat cari untung.

Di pihak penyelenggara, perusahaan asuransi memang bertujuan mencari keuntungan, tapi justru keuntungan itulah yang menjamin kegiatan melindungi keuangan para nasabah bisa berjalan berkelanjutan. Para nasabah senang jika perusahaan asuransinya memperoleh keuntungan. Sebaliknya, jika perusahaan asuransi mengalami kerugian, para nasabah akan merasa tidak aman. Jadi, keuntungan yang diperoleh pihak perusahaan asuransi tidak diikuti dengan kerugian di pihak nasabah. Beda dengan judi.

Premi dan uang taruhan. Karena tujuan yang melatarinya berbeda, premi asuransi tidak bisa disamakan dengan uang taruhan. Uang taruhan dalam judi dikeluarkan demi memperoleh uang yang lebih besar. Sedangkan premi dalam asuransi adalah biaya proteksi, yang dikeluarkan demi memperoleh bantuan keuangan jika mengalami musibah. Yang namanya biaya, wajar jika hangus atau tidak kembali, sama seperti halnya biaya listrik dan telepon (bahkan meskipun listrik dan telepon itu tidak digunakan).
Hasil akhir. Hasil akhir dalam judi adalah menang dan kalah, atau untung dan rugi. Orang yang menang mendapat hadiah atau uang taruhan dari lawannya, dan dia untung. Sedangkan orang yang kalah kehilangan uang taruhan dan dia rugi.

Dalam asuransi tidak ada yang menang dan kalah ataupun untung dan rugi. Orang yang memperoleh uang klaim tidak bisa dikatakan untung karena saat itu ia mengalami musibah. Sedangkan orang yang tidak memperoleh uang klaim tidak bisa dikatakan rugi karena berarti ia baik-baik saja.

Perusahaan asuransi pun tidak merasa sedang kalah ketika harus membayar klaim untuk nasabahnya. Justru pembayaran klaim adalah momen yang penting bagi pihak asuransi untuk meningkatkan reputasinya di mata masyarakat.

Dampak. Banyak orang yang bangkrut karena judi, tapi tidak ada orang yang bangkrut karena asuransi. Sebaliknya, banyak orang yang bangkrut karena tidak punya asuransi.

Judi menimbulkan permasalahan sosial di masyarakat, sedangkan asuransi menjadi jaring pengaman sosial di masyarakat.

Judi menimbulkan ketagihan atau kecanduan, asuransi tidak. Orang yang kalah judi akan penasaran, orang yang menang judi akan dilanda keserakahan. Sementara itu, orang yang berasuransi tidak akan menyetor premi melebihi kemampuan.

Judi itu saling menganiaya, sedangkan asuransi itu saling menolong. Banyak penjudi akan berusaha mengalahkan lawan mainnya sampai bangkrut dan jadi budak (contoh perjudian dadu antara Duryudana dan Yudhistira dalam kisah Mahabharata). Bandar judi akan mendorong para penjudi supaya terus-menerus main di tempatnya. Sementara dalam asuransi, setiap orang akan rela jika uangnya dipakai untuk membayar klaim dari peserta lain yang mengalami musibah, dan tidak ada yang mengharapkan uang klaim itu diberikan untuk dirinya sendiri.

Dalam hidup ini, di mana segala kemungkinan bisa terjadi, sebetulnya orang yang lebih tepat dikatakan berjudi adalah mereka yang tidak berasuransi. Seorang kepala keluarga yang tidak memiliki asuransi jiwa, sesungguhnya dia sedang berjudi dengan nasib keluarganya. Sudah tahu bahwa sebagai manusia, dia bisa mati kapan saja tanpa pandang usia, dan jika dia mati, hilang pula sumber nafkah untuk keluarganya; tapi mengapa dia tidak berasuransi? Itulah judi yang sebenarnya, karena membuat kehidupan ekonomi keluarganya berada dalam bahaya setiap saat.

Asuransi dapat dianalogikan dengan agama. Orang menganut agama dengan tujuan supaya memperoleh keselamatan dalam kehidupan di akhirat. Jika akhirat ada, dia selamat. Jika ternyata akhirat tidak ada, berarti tak masalah. Sebaliknya, orang yang tidak beragama, jika akhirat tidak ada, tak masalah. Tapi jika ternyata kehidupan akhirat ada, dia berada dalam bahaya besar. Siapakah yang berjudi di sini, orang yang beragama atau tidak beragama?

Komentar terhadap Pendapat Pakar

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pakar yang dikutip di atas, izinkan saya memberikan komentar atas beberapa pendapat mereka.

Misalnya, Afzalur Rahman menulis, “… siapakah yang akan keluar sebagai pemenangnya, para petaruh ataukah penyelenggara, merupakan tanda tanya.” Pendapat yang sama dikemukakan Syekh Husain Hamin Hisan yang menyebut akad asuransi, seperti halnya judi, sebagai akad mu’awadhah, di mana kemenangan sebagai pengganti kemungkinan kalah, dan kekalahan sebagai pengganti kemungkinan menang.

Komentar saya: Dalam judi memang betul ada pihak yang menang dan pihak yang kalah, tapi asuransi bukan soal menang-kalah. Apakah orang yang mendapat pembayaran klaim asuransi bisa disebut pihak yang menang? Tidak, karena berarti ia mengalami risiko atau musibah. Apakah orang yang tidak mendapatkan pembayaran klaim bisa disebut pihak yang kalah? Tidak juga, karena berarti tidak terjadi suatu risiko pada dirinya dan ia pun baik-baik saja. Jadi, tidak benar jika dikatakan akad asuransi adalah akad mu’awadhah (menguntungkan yang menang dan merugikan yang kalah).

Dalam hal nasabah vis a vis perusahaan asuransi, sebetulnya para nasabah tidak sedang berhadapan dengan perusahaan asuransi dan tidak sedang bertaruh dengan perusahaan. Peserta asuransi adalah pihak yang sedang meminta perlindungan keuangan kepada perusahaan asuransi. Untuk itu ia membayar sejumlah premi kepada perusahaan. Premi ini bukanlah uang taruhan, melainkan biaya perlindungan yang memang sudah direlakan hangus seperti halnya biaya listrik dan telepon. Jika kondisi peserta baik-baik saja (tidak terjadi risiko), ia tidak membutuhkan perlindungan keuangan dan tak masalah jika preminya menjadi milik perusahaan. Tapi jika peserta mengalami suatu risiko, barulah ia membutuhkan perlindungan keuangan dan perusahaan asuransi harus menunaikan janjinya. Orang-orang yang berasuransi secara benar dengan tujuan yang benar (yaitu perlindungan) tidak akan mempermasalahkan premi hangus.

Kemudian pendapat dari Syafi’i Antonio yang menulis: “Ketika seorang pemegang polis mendadak kena musibah sehingga memperoleh hasil klaim, padahal baru sebentar menjadi klien asuransi dan baru sedikit membayar premi. Jika ini terjadi, nasabah diuntungkan.”

Komentar saya: Apakah terkena musibah itu keuntungan?

Syafi’i pun melanjutkan: “Apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja, bahkan uangnya dianggap hangus.”

Reversing period: periode setelah berakhirnya pengenaan biaya akuisisi, ketika premi nasabah sudah seluruhnya di investasikan. Biaya akuisisi umumnya dikenakan di 5 tahun pertama, dengan porsi terbesar di 2 tahun pertama. Istilah ini hanya ada di produk asuransi yang mengandung nilai tunai (terutama endowment dan unit-link).

Komentar saya: 1. Jika seseorang merasa rugi ikut asuransi karena preminya hangus, orang tersebut pasti berasuransi tanpa tahu tujuannya atau berasuransi dengan tujuan mendapatkan keuntungan investasi. 2. Premi hangus bukan monopoli asuransi konvensional, sesungguhnya di asuransi syariah pun sama belaka. Cobalah anda ikut polis unit-link syariah lalu tutup polis anda sebelum dua tahun. Uang anda akan hanya akan kembali sebagian kecil (0 sd 50%) tergantung komposisi premi dan top up berkala.

BENARKAH ASURANSI KONVENSIONAL MENGANDUNG GHARAR (KETIDAKJELASAN)?

Gharar dalam asuransi konvensional terjadi apabila kedua belah pihak (peserta asuransi dan perusahaan asuransi) saling tidak mengetahui apa yang akan terjadi, kapan musibah akan menimpa, apakah minggu depan, tahun depan, dan sebagainya. Ini adalah suatu kontrak yang dibuat berasaskan pengandaian (ihtimal) semata. (Sula, 2004: 47).

Menurut Syafii Antonio (Sula, 2004: 48), kontrak asuransi konvensional dapat dikategorikan sebagai akad tadabuli atau akad pertukaran, yaitu pertukaran pembayaran premi dengan uang pertanggungan. Secara syariah, dalam akad pertukaran harus jelas berapa yang dibayarkan dan berapa yang diterima.

Antonio mencontohkan dalam asuransi jiwa, keadaan ini akan menjadi rancu (gharar) karena kita tahu berapa yang akan diterima (yaitu sejumlah uang pertanggungan), tapi tidak tahu berapa yang akan dibayarkan (jumlah seluruh premi) karena hanya Allah yang tahu kapan seseorang akan meninggal. Mungkin saja seseorang baru membayar beberapa kali, lalu meninggal sehingga ia mendapatkan uang pertanggungan. Tapi mungkin saja seseorang sudah membayar bertahun-tahun bahkan hingga akhir kontrak tapi masih hidup, sehingga ia tidak memperoleh uang pertanggungan.

Sementara itu dalam asuransi kesehatan atau kendaraan, kita tahu berapa yang kita bayarkan (misalnya premi per tahun), tapi tidak tahu berapa yang akan diterima, dan baru diketahui ketika risiko terjadi. Mungkin saja ketika kita dirawat inap, biayanya 10 juta atau 20 juta, atau kerusakan kendaraan biaya perbaikannya 5 juta atau 8 juta. Hal itu baru kita ketahui ketika peristiwa klaim terjadi. Di sinilah gharar dalam asuransi konvensional.

Contoh gharar yang sering disebut adalah mengenai sumber dana pembayaran klaim. Misalnya nasabah asuransi asuransi jiwa membayar premi 5 juta per tahun dan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 1 miliar jika meninggal dunia. Ketika polis baru berjalan dua tahun (baru membayar 10 juta), dia meninggal dunia, lalu cairlah uang sebesar 1 miliar untuk ahli warisnya. Pertanyaannya, dari mana selisih uang sebesar 990 juta yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada ahli waris? Ini gharar (tidak jelas), juga riba fadhl (riba berlipat ganda), dan juga judi sekaligus, demikian kata pengkritik asuransi konvensional.

TANGGAPAN

Akad asuransi konvensional memang akad tadabuli (pertukaran), tapi saya tidak setuju jika dikatakan bahwa yang dipertukarkan adalah premi dengan uang pertanggungan. Ketika seorang nasabah membayar premi, ia belum tentu memperoleh uang pertanggungan, bahkan bisa saja selama masa kontrak pertukaran tersebut tidak terjadi karena ia tidak mengalami musibah. Karena pertukaran belum tentu terjadi, berarti pertukaran yang terjadi bukanlah antara premi dengan uang pertanggungan.

Jika bukan dengan uang pertanggungan, lalu dengan apa premi ditukar? Dengan perlindungan. Begitu seseorang membayar premi, saat itulah ia mendapatkan perlindungan dalam bentuk perlindungan keuangan. Apakah musibah terjadi atau tidak, ia tetap memperoleh perlindungan keuangan. Soal ini akan saya elaborasi di bagian selanjutnya.

Kritik selanjutnya mengenai gharar seperti diungkapkan di atas menurut saya berlebihan. Dalam polis asuransi jiwa, jika masalahnya hanya ketidaktahuan mengenai total premi yang harus dibayar sampai tertanggung meninggal dunia, berarti asuransi jiwa dengan premi tunggal (sekali bayar) bukan gharar.

Dalam asuransi kesehatan atau asuransi kendaraan, premi jelas diketahui dan manfaat yang akan diterima pun diketahui melalui tabel manfaat. Memang di situ hanya ditulis limit atau maksimal manfaat yang diterima, tapi berlebihan jika ini dipersoalkan sebagai gharar.

Dalam hal ini, akad asuransi tidak bisa disamakan dengan akad jual beli produk atau barang lainnya. Ketika saya mengikuti asuransi jiwa dengan pembayaran premi secara berkala, saya tidak mempersoalkan berapa kali kenyataannya saya akan membayar premi dan saya merasa tidak perlu tahu. Jika saya menuntut untuk tahu, sama saja saya menanyakan kapan saya akan meninggal. Itu hal yang berlebihan.

Demikian pula ketika saya membayar premi untuk asuransi kendaraan, misalnya 3 juta setahun, saya tidak akan menanyakan berapa persisnya penggantian yang akan saya terima jika kendaraan saya rusak, karena itu berlebihan. Perusahaan asuransi sudah memberi tahu tabel manfaat dan maksimal yang diterima, dan itu cukup bagi saya. Hal ini adalah persoalan yang sudah maklum adanya bagi setiap orang.

Tentang contoh gharar yang disebut di atas, dari mana uang 990 juta yang diberikan kepada ahli waris? Jawabnya tentu saja dari uang perusahaan asuransi. Dari mana perusahaan asuransi mendapatkan uang sebesar itu? Jawabnya tentu saja karena nasabah perusahaan asuransi itu banyak, bukan hanya satu orang. Kalau nasabah perusahaan asuransi hanya satu atau dua orang, anda boleh heran dan menganggap hal itu tidak jelas. Tapi nasabah perusahaan asuransi itu bisa ratusan ribu bahkan jutaan orang.

BENARKAH ASURANSI KONVENSIONAL MENGANDUNG RIBA?

Menurut Muhammad Ayub dalam buku Understanding Islamic Finance (Ayub, 2009: 636), riba dalam asuransi konvensional terlibat dalam dua hal. Pertama, pertukaran antara premi dan uang pertanggungan, di mana nilai premi biasanya jauh lebih kecil dibanding uang pertanggungan. Ini adalah riba fadhl (riba yang berlipat ganda) dan sekaligus riba nasi’ah (riba penundaan karena terdapat selisih waktu antara penyerahan premi dan pemberian uang pertanggungan).

Kedua, penyaluran dana peserta dalam instrumen-instrumen investasi berbasis bunga, seperti deposito, obligasi, dan saham-saham perbankan konvensional, di mana dalam produk asuransi yang mengandung nilai tunai (saving), peserta akan ikut menikmati hasil investasi berbasis bunga ini.

Secara umum pendapat para pakar lainnya terkait riba dalam asuransi tidak jauh berbeda, jadi tidak akan saya uraikan di sini.

TANGGAPAN

Pertama, seperti telah disebutkan sebelumnya, sesungguhnya pertukaran yang terjadi dalam asuransi bukanlah antara premi dengan uang pertanggungan, melainkan pertukaran antara premi dengan perlindungan keuangan. “Uang pertanggungan” dan “perlindungan keuangan” itu dua hal yang berbeda. Uang pertanggungan untuk memperolehnya perlu syarat, yaitu terjadi risiko, dan karena itu tidak semua nasabah akan menerimanya. Sedangkan perlindungan keuangan segera diperoleh nasabah begitu premi diterima oleh perusahaan asuransi, tak peduli risiko terjadi atau tidak.

Asuransi bukan bisnis jual-beli uang, tapi jual-beli perlindungan keuangan. Asuransi tidak menjual uang, melainkan menjual perlindungan terhadap uang.

Jika ada lembaga yang dikatakan menjual uang, itu adalah perbankan, lembaga pembiayaan, dan rentenir. Jika seseorang membutuhkan uang, ia akan datang kepada bank untuk “membeli” uang. Bank akan menyerahkan uang itu dan “pembeli” akan membayarnya dengan cara mencicil. Tentu harus ada keuntungan bagi bank dan di situlah riba muncul.

Kiranya tak ada orang yang jika butuh uang akan pergi ke perusahaan asuransi. Akad yang terjadi antara nasabah dan perusahaan asuransi pun bukan akad kredit atau simpan-pinjam, tapi akad jual-beli. Nasabah membayar premi dan perusahaan asuransi memberikan perlindungan keuangan.

Mungkin ada pertanyaan, mengapa nilai antara premi dan nilai perlindungan keuangan berbeda jauh? Jawaban: Memang begitulah semua produk yang berbentuk perlindungan. Antara harga dengan manfaat yang diterima, bedanya tidak sebanding. Software antivirus untuk komputer mungkin harganya hanya 500 ribu, tapi berapakah nilai dari file-file yang dilindunginya? Gaji satpam rumah anda mungkin hanya sebesar UMR, tapi berapakah kerugian yang anda alami jika rumah anda kemasukan maling? Harga mobil tanpa airbag mungkin lebih murah 10 juta dibanding mobil dengan airbag (kantong udara), tapi berapa nilai jiwa dari penumpang mobil yang mungkin terselamatkan berkat adanya airbag?

Kedua, tak bisa dihindari, premi yang terkumpul dari nasabah tentu harus disimpan dalam instrumen penyimpanan uang, dan ini berarti melibatkan perbankan. Sejauh menyangkut perusahaan atau produk asuransi konvensional, bank yang menjadi tempat penyimpanan juga biasanya bank konvensional yang beroperasi dengan sistem bunga. Selain di bank, dana premi juga disalurkan ke dalam investasi lain yang bisa saja berbasis bunga, seperti obligasi, reksadana konvensional, dan saham perbankan.

Di sini saya ingin membedakan antara produk asuransi murni yang tidak mengandung nilai tunai dengan produk asuransi yang mengandung nilai tunai. Pada produk asuransi murni, nasabah berasuransi dengan niat semata-mata untuk mendapatkan perlindungan keuangan jika terjadi musibah. Di mana pun dana premi disimpan dan berapa pun bunga atau return investasi yang dihasilkan, nasabah tidak ikut menikmati sepeser pun. Jadi, bisa dikatakan bahwa asuransi murni tanpa nilai tunai, dilihat dari sisi nasabah, tidaklah mengandung bunga dan karena itu bukan riba.

Hal ini sama saja dengan seorang karyawan yang menerima pembayaran gajinya dari rekening perusahaan yang disimpan di bank konvensional. Apakah dana perusahaan tercampur dengan bunga? Iya. Tapi apakah karyawan ikut menikmati? Tidak.

Lain halnya dengan produk asuransi yang mengandung nilai tunai, nasabah berasuransi dengan harapan bukan hanya memperoleh perlindungan keuangan dari musibah, tapi juga hasil investasi jika tidak terjadi musibah. Hasil investasinya inilah yang mengandung riba jika disalurkan di intrumen-instrumen investasi berbasis bunga.

TUDUHAN-TUDUHAN LAIN TERHADAP ASURANSI KONVENSIONAL

Asuransi konvensional mengandung unsur penganiayaan

Penganiayaan di sini ialah ketika nasabah tidak sanggup melanjutkan membayar premi di tahun-tahun awal kepesertaan dan ia ingin berhenti, ia akan kehilangan sebagian besar atau seluruh premi yang telah disetorkan.

Menurut saya, jika seseorang merasa rugi ketika menutup polis yang baru berjalan, tentulah ada kekeliruan dalam niatnya berasuransi. Orang yang berasuransi dengan niat mendapatkan keuntungan nilai tunai di masa mendatang, sebetulnya bukan niat asuransi yang tepat. Niat asuransi yang tepat adalah memperoleh proteksi keuangan jika sewaktu-waktu terjadi musibah yang tidak diinginkan.

Selain itu, persoalan dengan premi hangus bukan monopoli asuransi konvensional. Pada asuransi syariah pun sama persis. Jadi, jika asuransi konvensional dikatakan menganiaya nasabah yang menutup polis di tahun awal, hal yang sama pada asuransi syariah.

Asuransi konvensional hanya bertujuan mencari keuntungan

Dari sisi peserta, niat berasuransi yang benar bukanlah mencari keuntungan, tapi mendapatkan perlindungan, dalam hal ini perlindungan keuangan dari risiko atau musibah yang mungkin terjadi.

Ada beberapa prinsip asuransi yang membatasi niat mencari keuntungan. Selain prinsip indemnity seperti disebutkan di atas, ada lagi prinsip yang disebut subrogasi. Contoh prinsip subrogasi adalah koordinasi manfaat (coordination of benefit) dalam asuransi kesehatan. Jika nasabah memiliki beberapa polis asuransi kesehatan, dan biaya kesehatannya telah ditanggung sepenuhnya oleh salah satu polis, ia tidak berhak mengajukan klaim ke polis lainnya. Tapi jika biaya kesehatannya belum ditanggung penuh oleh salah satu polis, ia berhak mengajukan klaim kepada polis lainnya sebesar kekurangan yang tidak ditanggung oleh polis pertama.

Dari sisi perusahaan, bisnis asuransi memang bertujuan mendapatkan keuntungan. Tapi justru dengan adanya keuntungan itulah program perlindungan bisa berjalan berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak orang. Jika perusahaan asuransi rugi, lama-lama bisa bangkrut dan program perlindungan pun berhenti, dan akhirnya nasabah juga yang dirugikan. Tentang besarnya keuntungan, perusahaan asuransi tidak akan bisa berbuat semena-mena karena ada banyak perusahaan asuransi lain yang juga sedang mencari nasabah. Didukung dengan regulasi yang jelas, kompetisi yang sehat akan terjadi.

Dan urusan mencari keuntungan tentunya bukan hanya kebutuhan perusahaan asuransi konvensional. Perusahaan asuransi syariah pun harus mendapatkan untung dalam pengelolaannya, karena keuntungan bisa membuat kebaikan terus berkesinambungan.

Sebaliknya, problem nyata terjadi pada penyelenggara asuransi yang menafikan keuntungan, contohnya program asuransi yang diselenggarakan oleh negara. Defisit klaim menjadi isu yang berulang setiap tahun, sehingga negara harus terus-menerus menambal dana melalui APBN. Jumlah penduduk yang makin banyak dan faktor inflasi membuat kerugian itu semakin besar dan dana yang harus ditambal negara pun semakin besar dari tahun ke tahun. Beberapa negara bahkan mengalami kebangkrutan karena program jaminan kesehatan dan pensiun lebih banyak mengandalkan APBN.

Adanya akad penundukan

Kontrak polis asuransi yang disodorkan perusahaan asuransi hanya bisa disikapi oleh calon nasabah dengan satu dari dua cara: take it or leave it. Terima seluruhnya atau tolak seluruhnya. Ini memang boleh disebut akad penundukan, tapi hal ini dilakukan lebih karena alasan praktis saja. Seandainya dari ratusan ribu atau jutaan nasabah harus dilakukan tawar-menawar, betapa merepotkannya.

Meskipun nasabah tidak punya pilihan lain, bukan berarti calon nasabah berada di pihak yang lemah melawan pihak yang kuat. Keduanya sama kuat, karena calon nasabah berhak menolak kontrak yang disodorkan. Bahkan jika polis telah berlaku, perusahaan asuransi tidak berhak memutus kontrak begitu saja. Sebaliknya, nasabah dapat memutus kontrak kapan saja dengan cara menghentikan pembayaran premi.

Dan di zaman sekarang, lembaga perlindungan konsumen telah semakin kuat sehingga perusahaan asuransi tidak bisa berlaku sewenang-wenang terhadap nasabahnya. Jika misalnya ada klaim yang tidak dibayar, lalu nasabah merasa alasannya tidak masuk akal, nasabah bisa mengadukan perusahaan ke badan mediasi asuransi bahkan pengadilan.

Perusahaan asuransi pun tidak bisa seenaknya menetapkan ketentuan polis, karena ia harus berkompetisi dengan banyak perusahaan asuransi lainnya. Perusahaan asuransi yang produknya merugikan, pasti produknya tidak laku dan akan ditinggallkan.

Selain itu, akad penundukan bukan hanya milik asuransi konvensional. Asuransi syariah pun sama. Cobalah anda mendaftar polis di perusahaan asuransi syariah, pastilah anda tidak punya kuasa mengotak-atik kontrak polis. Anda hanya bisa menerima seluruhnya atau menolak seluruhnya.

DISKUSI

Apakah yang Sebenarnya Diperjualbelikan dalam Asuransi?

Menurut saya, kritik yang menyebutkan asuransi konvensional haram salah satunya disebabkan adanya kekeliruan dalam memandang hakikat produk asuransi. Apakah sebenarnya yang diperjualbelikan dalam asuransi? Tegasnya, produk asuransi itu barangnya berbentuk apa?

Apakah:

  1. Uang
  2. Risiko
  3. Perlindungan?

Ada ungkapan yang menyebut, asuransi itu uang kecil beli uang besar. Uang kecil itu premi, uang besar itu uang pertanggungan atau manfaat asuransi. Jual-beli uang berarti riba.

Betulkah produk asuransi itu berbentuk uang? Faktanya, ketika saya menyetor uang premi ke perusahaan asuransi, saya tidak serta-merta mendapat uang pertanggungan. Siapa orangnya yang begitu bodoh mau menukar uang besar dengan uang kecil? Bukan hanya itu, bahkan uang itu belum tentu saya dapatkan hingga akhir kontrak, karena ada syarat yang harus saya penuhi.

Syarat untuk memperoleh uang pertanggungan adalah terjadi risiko pada diri saya, entah sakit, kecelakaan, cacat, atau meninggal dunia, tergantung jenis asuransi yang saya beli. Dari sini ada orang mengatakan, asuransi itu jual-beli risiko. Barang yang diperjualbelikan dalam asuransi adalah risiko. Risiko itu sesuatu yang tidak pasti, mungkin terjadi mungkin pula tidak. Karena itu jual-beli risiko berarti gharar (ketidakjelasan) dan sekaligus maysir (judi).

Betulah demikian? Faktanya, saya tidak menginginkan risiko itu terjadi. Bagaimana mungkin saya membeli sesuatu yang saya sendiri tidak mau mengalaminya? Demikian pula perusahaan asuransi tidak menginginkan risiko itu terjadi pada nasabahnya. Yang saya tahu, risiko itu mungkin terjadi, dan jika terjadi, saya butuh uang. Tapi apakah risiko itu akan terjadi atau tidak, bukan itu yang saya perhatikan, tapi dampak keuangan dari risiko itu.

Jadi, apa sebetulnya yang saya beli ketika saya ikut asuransi? Seperti saya sampaikan berulang-ulang di atas, yang saya beli tidak lain adalah perlindungan. Perlindungan apa? Perlindungan keuangan. Perlindungan keuangan dari apa? Dari risiko yang mungkin terjadi.

Jadi, produk asuransi itu hakikatnya adalah perlindungan. Uang hanyalah kata sifat (perlindungan keuangan), dan risiko hanyalah kata keterangan (perlindungan keuangan dari risiko). Kekeliruan dalam memandang hal ini bisa menyebabkan kekeliruan dalam menyimpulkan hukum dari asuransi konvensional.

Dengan menyebut produk asuransi sebagai perlindungan, saya tidak dipusingkan dengan apakah risiko akan terjadi atau tidak, apakah uang pertanggungan akan saya peroleh atau tidak. Yang pasti, begitu saya membayar premi dan polis saya disetujui, saat itu pula saya memperoleh perlindungan. Jadi, saya tidak membeli sesuatu yang belum pasti saya peroleh.

Hal ini sesuai dengan pengertian asuransi secara tekstual, yaitu perlindungan, proteksi, jaminan, pertanggungan, atau garansi. Dalam bahasa Arab asuransi disebut at-ta’min yang berarti memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut.

Dalam berbagai pendidikan keuangan (financial literacy) yang diajarkan para perencana keuangan pun selalu ditekankan bahwa asuransi itu ialah perlindungan atau proteksi dari risiko yang mungkin terjadi, di mana yang dilindungi bukanlah risikonya, melainkan dampak keuangan dari risiko tersebut. Asuransi tidak berwenang mencegah sesuatu terjadi, tapi asuransi bisa meringankan dampak keuangan dari sesuatu itu. Asuransi tidak bisa mencegah sakit, tapi bisa membantu biaya berobatnya. Kematian bisa terjadi entah orang punya asuransi atau tidak, tapi nasib keluarga yang ditinggalkan bisa berbeda.

Untuk menggambarkan apa itu perlindungan, asuransi sering dianalogikan dengan payung. Sedia payung sebelum hujan. Apakah jika tidak terjadi hujan, payung itu percuma kita beli dan keberadaannya menjadi sia-sia? Tidak. Asuransi juga sering diumpamakan dengan jas hujan, helm, airbag, pagar, satpam, ban serep, atau kotak P3K. Meskipun tidak semua perumpamaan itu tepat, semuanya sama-sama bertemakan perlindungan.

Mungkin ada di antara anda yang belum bisa membayangkan barang seperti apa perlindungan itu. Saya beri contoh, jika saya pergi ke luar negeri secara legal, saya akan mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan visa. Dengan visa itu saya mendapatkan perlindungan selama berada di sana. Berbentuk apakah perlindungan itu? Keamanan dari gangguan. Jika tidak terjadi apa-apa pada saya, saya bisa pulang dari luar negeri dengan selamat, dan uang visa hangus. Tak masalah. Dalam bentuk yang lebih konkret, jika saya mengalami gangguan selama di sana, misalnya barang saya dicuri orang, saya bisa melapor ke polisi setempat dan mereka akan berupaya menangkap si pencuri supaya barang saya bisa kembali. Apa pun yang terjadi pada saya, uang visa tetap hangus. Dan itu tak masalah.

Asuransi-Murni, Asuransi-Tabungan, dan Asuransi-Investasi

Secara garis besar terdapat tiga bentuk produk asuransi.

Asuransi-murni, yaitu asuransi tanpa nilai tunai, baik dalam bentuk tabungan, investasi, maupun pengembalian premi. Hampir semua asuransi kerugian (rumah, mobil, kargo, travel) merupakan asuransi-murni tanpa nilai tunai. Asuransi untuk korporasi semuanya merupakan asuransi murni. Dalam asuransi jiwa, yang termasuk asuransi-murni adalah term-life (asuransi jiwa berjangka) dan term-health (asuransi kesehatan berjangka, biasanya tahunan). Di luar itu ada nilai tunainya.

Asuransi-tabungan, yaitu asuransi jiwa dengan nilai tunai berbentuk tabungan (saving). Contohnya adalah whole-life (asuransi jiwa seumur hidup) dan endowment (asuransi dwiguna, biasanya untuk keperluan persiapan pendidikan atau pensiun). Beberapa produk asuransi memberikan pengembalian premi di akhir kontrak, ada yang sebagian atau seluruhnya, itu juga bentuk lain dari asuransi tabungan.

Asuransi-investasi, atau disebut juga unit-link, ialah asuransi jiwa dengan nilai tunai berbentuk investasi reksadana. Berbeda dengan asuransi-tabungan yang nilai tunainya dijamin, nilai tunai pada asuransi-investasi tidak dijamin karena tergantung kinerja investasi.

Dalam pembahasan di atas, ketika saya menolak asuransi konvensional dikatakan judi, gharar, dan riba, konteksnya adalah asuransi-murni tanpa nilai tunai. Itulah makanya ada pembicaraan tentang premi hangus dan untung-rugi.

Adapun untuk asuransi dengan nilai tunai, penentuan hukumnya harus mempertimbangkan pula hukum dari nilai tunainya, apakah mengandung unsur-unsur yang diharamkan atau tidak. Isu utama yang berkaitan dengan nilai tunai adalah riba. Jika unsur nilai tunai pada produk asuransi mengandung riba, berarti dia haram. Jika tidak, berarti halal.

Riba adalah segala bentuk tambahan yang dijanjikan dalam transaksi non-tunai atau simpan-pinjam. Pada asuransi-murni, tidak ada tambahan apa pun yang dijanjikan kepada peserta dari premi yang disetorkan. Pada asuransi-tabungan, ada tambahan yang dijanjikan kepada peserta dari premi yang disetorkan. Sedangkan pada asuransi-investasi, ada tambahan tapi tidak dijanjikan.

Dari sini, tampak bahwa pada prinsipnya asuransi-murni tidak mengandung riba, asuransi-tabungan merupakan riba, dan asuransi-investasi bisa mengandung riba bisa pula tidak.

Selain soal ada-tidaknya tambahan, faktor lain yang menentukan riba adalah tempat di mana dana nasabah disimpan atau diinvestasikan. Pada asuransi-murni konvensional, dan hampir semua perusahaan asuransi memang konvensional, bisa dipastikan dana nasabah disimpan di bank-bank konvensional atau di instrumen investasi berbasis bunga seperti deposito, SBI, dan obligasi. Tapi karena nasabah tidak menikmati bunga tersebut, dapatlah dianggap bahwa masalah tempat penyimpanan dana ini bukanlah bagian inti dari hukum asuransi yang sedang kita persoalkan. Tentu akan lebih baik jika dana tersebut disimpan di bank-bank yang sesuai syariah. Tapi jika kita hendak mempersoalkan hal tersebut, tanya dulu diri sendiri punya rekening di bank mana saja.

Pada asuransi-tabungan yaitu whole-life dan endowment, jika merupakan produk konvensional, pada umumnya dana nasabah disimpan di instrumen berbasis bunga. Nasabah menikmati bunga tabungan ini dalam bentuk nilai tunai polis, jadi secara langsung nasabah ikut makan bunga dan inilah riba. Jika asuransi-tabungan merupakan produk syariah, dana disimpan di bank syariah dan instrumen investasi yang sesuai ketentuan syariah, seperti deposito syariah dan sukuk (obligasi syariah). Tapi jika produk whole-life atau endowment syariah ini menjanjikan tambahan nilai tunai sejumlah tertentu di tengah atau di akhir kepesertaan, saya ragu dengan kesyariahannya.

Pada asuransi-investasi (unit-link), dari sisi asuransinya merupakan asuransi-murni jenis term-life (asuransi jiwa berjangka), sedangkan investasinya sama dengan reksadana. Sisi term-life pada unit-link terlihat dari adanya komponen biaya asuransi (cost of insurance; atau tabarru dalam asuransi syariah) yang dikenakan untuk setiap manfaat proteksi yang diambil. Biaya asuransi ini sifatnya hangus (tidak kembali kepada peserta) dan jangkanya tahunan, dalam arti biaya asuransi berubah tiap tahun seiring usia. Asuransi-murni tanpa nilai tunai, seperti saya sampaikan di atas, bukanlah judi, gharar, dan riba.

Sisi investasi unit-link sama dengan reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi untuk disalurkan ke dalam instrumen-instrumen investasi yang menurut pertimbangan sang manajer akan memberikan imbal hasil paling optimal. Seluruh hasil investasi merupakan milik para investor, sedangkan manajer investasi mendapatkan upah pengelolaan. Skema reksadana pada dasarnya adalah halal, karena menggunakan akad yang umum digunakan dalam investasi, yaitu akad wakalah (pendelegasian). Yang membedakan adalah ke mana dana masyarakat tersebut diinvestasikan. Jika diinvestasikan ke dalam instrumen investasi berbasis bunga, maka termasuk riba dan riba hukumnya haram. Jika instrumen investasinya bebas dari bunga, maka bukan riba dan hukumnya halal.

Faktor ini membedakan antara unit-link yang dikelola secara konvensional dengan unit-link yang dikelola secara syariah. Dana unit-link konvensional disalurkan ke instrumen-intrumen investasi tanpa memandang sisi kesyariahannya, dan faktanya kebanyakan memang ke instrumen berbasis bunga. Karena itu saya setuju jika dikatakan unit-link konvensional mengandung riba, jadi sebaiknya dihindari. Sedangkan unit-link syariah sudah terbebas dari riba (atau setidaknya ada usaha serius untuk membebaskannya dari riba), dan inilah asuransi yang baik untuk diambil.

Asuransi-Musibah dan Asuransi-Bukan-Musibah

Pada awalnya, semua risiko yang ditanggung asuransi merupakan musibah, yaitu segala kejadian yang tidak dikehendaki seperti kehilangan barang kiriman, kerusakan properti, sakit, kecelakaan, cacat, dan meninggal dunia. Jenis asuransinya berbentuk asuransi-murni tanpa nilai tunai.

Pada asuransi kerugian, kondisinya masih sama sampai sekarang. Tapi pada asuransi jiwa, ada perkembangan seiring aspirasi masyarakat yang menginginkan manfaat seandainya tidak terjadi musibah. Lalu produk asuransi term-life pun ditambahkan nilai tunai. Premi jadi lebih mahal, dengan kompensasi ada manfaat tunai yang didapatkan nasabah selain manfaat proteksi, baik terjadi klaim atau tidak.

Produk asuransi whole-life (asuransi jiwa seumur hidup) muncul karena ada yang menghendaki kepastian klaim dibanding term-life (asuransi jiwa berjangka) yang klaimnya belum pasti. Produk whole-life pun dilengkapi nilai tabungan yang bisa diambil meskipun skemanya masih pinjaman polis (pinjaman berbunga). Premi whole-life lebih mahal daripada term-life karena dua hal: masa perlindungannya seumur hidup (biasanya hingga usia 100 tahun) dan ada nilai tunai yang dijamin.

Produk asuransi endowment (dwiguna) muncul karena ada yang menginginkan manfaat nilai tunai jika tidak terjadi musibah. Manfaat nilai tunai ini kemudian dimodifikasi menjadi dana tahapan untuk pendidikan (asuransi pendidikan) dan dana tahunan untuk pensiun (asuransi pensiun). Preminya lebih mahal dibanding whole-life karena porsi nilai tunainya lebih besar. Endowment lebih tepat dikatakan produk tabungan yang ada asuransinya ketimbang produk asuransi yang ada tabungannya.

Pendidikan dan pensiun adalah risiko yang memerlukan dana, tapi bukan tergolong musibah. Selain itu, waktu kejadiannya pun dapat diketahui. Misalnya jika anak baru lahir, ia akan sekolah SD 6 tahun kemudian, SMP 12 tahun kemudian, SMA 15 tahun kemudian, dan PT 18 tahun kemudian. Untuk pensiun, dapat direncanakan misalnya pensiun di umur 55 atau 60 tahun.

Karena waktu kejadiannya dapat diketahui, pendidikan dan pensiun sebetulnya bisa dipersiapkan sendiri tanpa harus melalui asuransi. Caranya dengan menabung atau investasi. Dalam produk asuransi endowment pun, dana yang dialokasikan untuk pendidikan dan pensiun bukanlah dari sisi asuransinya, melainkan dari sisi nilai tunainya. Jadi, sebetulnya apa yang disebut “asuransi pendidikan” dan “asuransi pensiun” bukanlah asuransi dalam pengertian yang sebenarnya. Uang yang diterima nasabah ketika anaknya masuk sekolah atau ketika dirinya memasuki masa pensiun bukanlah uang asuransi, tapi uangnya sendiri.

Apa perbedaan uang asuransi dengan uang sendiri? Uang asuransi adalah uang bersama, dikumpulkan dari premi seluruh nasabah. Karena berasal dari banyak orang, uang asuransi telah siap sedia sejak awal polis disetujui. Kapan pun nasabah mengalami musibah yang ditanggung, uang asuransi bisa dicairkan. Misalnya nasabah baru membayar premi satu bulan lalu meninggal dunia, maka uang pertanggungan jiwa sebesar ratusan juta hingga miliaran bisa segera diberikan kepada ahli waris. Dari mana uangnya? Dari para nasabah lain.

Hal ini berbeda dengan uang untuk pendidikan dan pensiun. Orang tidak bisa ikut asuransi pendidikan satu bulan sebelum anaknya masuk sekolah. Uang untuk pendidikan dan pensiun butuh waktu untuk terkumpul sejumlah yang diinginkan, karena berasal dari uang sendiri. Tidak ada sedikit pun uang orang lain maupun uang perusahaan asuransi yang diberikan untuk pendidikan dan pensiun nasabah. Semuanya murni uang sendiri yang dikelola oleh perusahaan asuransi berikut hasil pengembangannya, setelah dipotong biaya-biaya. Dalam asuransi-bukan-musibah seperti pendidikan dan pensiun, tidak ada tolong-menolong di antara sesama peserta.

Kembali ke masalah hukum asuransi konvensional, asuransi-bukan-musibah bisa tergolong riba karena mengandung nilai tunai yang dijamin dan pengelolaannya belum tentu sesuai ketentuan syariat. Jadi, jika tidak ingin terlibat riba, hindarilah asuransi yang memberikan jaminan nilai tunai, seperti yang biasa terdapat pada asuransi konvensional jenis endowment untuk pendidikan dan pensiun. Pilhlah asuransi hanya dengan niat untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak dikehendaki.

Sedangkan untuk persiapan pendidikan anak, pensiun, dan tujuan keuangan lainnya yang bukan musibah dan waktunya dapat diketahui atau direncanakan, sebaiknya dilakukan melalui investasi, terpisah dari asuransi. Investasi tidak harus ribet, bisa dilakukan dengan cara yang sederhana seperti menabung deposito dan emas. Orang-orang dulu di kampung melakukan investasi dengan memelihara ternak, menanam pohon, hingga membeli sawah. Jika mau yang lebih canggih, tak ada salahnya belajar investasi reksadana dan saham.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan, asuransi jiwa hukumnya haram kecuali mengandung unsur saving (tabungan, nilai tunai). Justru sebaliknya, asuransi yang mengandung saving itu lebih berpotensi masalah karena perhitungan hukumnya harus melewati dua unsur: asuransi dan tabungan/investasi. Jika pembuat fatwa memandang asuransi itu haram, mestinya tak ada bedanya apakah disertai tabungan ataupun tidak.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional, Beberapa Catatan

Beberapa perbedaan di bawah ini adalah sebagaimana diuraikan dalam buku-buku teks tentang asuransi syariah. Perbedaan ini bisa digunakan untuk melihat pada titik mana letak masalah asuransi konvensional ditinjau dari syariat Islam.

Akad atau kontrak

Pada asuransi syariah, kontraknya menggunakan akad tabarru (sedekah atau hibah kepada para peserta), sedangkan pada asuransi konvensional akadnya adalah jual beli (nasabah membeli perlindungan keuangan kepada perusahaan asuransi).

Catatan: Akad sedekah maupun jual beli sama-sama boleh, selebihnya tergantung apa yang ditransaksikan. Pendapat yang menyebut akad jual-beli (tadabuli) pada asuransi konvensional sebagai gharar (tidak jelas), hal itu karena mereka memandang yang diperjual-belikan adalah uang premi dengan uang pertanggungan.

Prinsip

Prinsip asuransi syariah adalah risk sharing (berbagi risiko) di antara sesama peserta, sedangkan pada asuransi konvensional prinsipnya risk transfering (transfer risiko).

Catatan: Ini hanya beda istilah, tapi pada dasarnya asuransi konvensional pun menerapkan prinsip berbagi risiko. Dari mana perusahaan asuransi mendapat dana untuk membayar klaim nasabahnya yang terkena sakit kritis sebesar 1 miliar? Tidak lain tentunya berasal dari premi para nasabah, bukan uang perusahaan asuransi sendiri. Hukum bilangan besar (law of large number) itu sendiri adalah hukum tentang pembagian risiko; semakin besar bilangannya semakin merata risiko yang dibagi tiap anggota.

Penyimpanan dana klaim

Pada asuransi syariah, dana untuk membayar klaim disimpan dalam rekening dana tabarru yang merupakan milik para peserta dan dipisahkan dari rekening perusahaan. Pada asuransi konvensional, dana disimpan di rekening milik perusahaan.

Catatan: Pada asuransi konvesional, setiap premi yang disetor nasabah, kecuali porsi tabungan, otomatis menjadi milik perusahaan. Tentu saja dana tersebut disimpan di rekening milik perusahaan.

Penyaluran dana investasi

Pada asuransi syariah, dana nasabah diinvestasikan ke dalam instrumen-instrumen investasi yang sesuai syariah, sedangkan pada asuransi konvensional, hal ini tidak diatur (artinya terserah perusahaan mau diinvestasikan ke mana).

Catatan: Di sini, asuransi konvensional mulai bersentuhan dengan riba. Nasabah yang mengambil produk asuransi dengan nilai tunai berkesempatan ikut menikmati hasil riba.

Pengawas syariah

Asuransi syariah diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah untuk memantau kesesuaian teori dengan praktik, sedangkan asuransi konvensional tidak diawasi secara syariah.

Catatan: Baik asuransi syariah maupun konvensional mendapat pengawasan dari otoritas yang dimiliki negara, seperti AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia), AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia), dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Klausul pengecualian bunuh diri

Dalam asuransi syariah, bunuh diri dikecualikan selamanya. Dalam asuransi konvensional, bunuh diri dikecualikan hanya di dua tahun pertama.

Catatan: Jika anda ikut asuransi konvensional dan tidak melakukan bunuh diri, tak masalah.

Di antara poin-poin perbedaan di atas, menurut saya hanya poin 4 yang perlu diwaspadai dari asuransi konvensional. Cara mewaspadainya adalah dengan meniatkan asuransi hanya untuk tujuan perlindungan keuangan, bukan mengharapkan keuntungan dari hasil tabungan atau investasi.

PENUTUP

Saya menulis pembahasan ini bukan untuk menghalalkan semua produk asuransi konvensional. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa asuransi itu, dalam bentuknya yang paling murni, yang tujuan dan harapannya hanya untuk memperoleh perlindungan keuangan dan bukan untuk mencari keuntungan dari hasil tabungan atau investasi, adalah boleh dan baik. Asuransi semacam ini hakikatnya adalah tolong-menolong, entah dijalankan secara nirlaba maupun bisnis.

Jika kita melihat hakikat asuransi sebagai perlindungan, semua tuduhan yang menghubungkan asuransi konvensional dengan judi, gharar, dan riba, menjadi tidak relevan lagi. Tapi saya maklum, di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, kesadaran berasuransi masih relatif rendah sehingga masih banyak yang berpikir jika tidak ada klaim lalu premi hangus itu merugikan. Di negara maju yang kesadaran berasuransi pada warganya sudah baik, premi hangus adalah wajar sebagai pengganti dari perlindungan. Orang yang niat asuransinya benar, tidak akan merasa rugi atau tertipu walaupun preminya tidak kembali. Justru mereka bersyukur bahwa risiko yang tidak diharapkan itu tidak terjadi.

Sebagai simpulan dari artikel ini, berikut adalah jenis produk asuransi yang tidak disarankan dan disarankan untuk diambil, dengan melihat keamanan dari sisi syariah.

Produk asuransi yang tidak disarankan:

Whole-life konvensional. Saya ragu ada whole-life yang syariah.
Endowment konvensional. Saya ragu ada endowment yang syariah.
Produk asuransi yang menjanjikan pengembalian premi, baik sebagian ataupun seluruhnya.

Unit-link konvensional. Kabar baiknya ada unit-link yang syariah.

Produk asuransi yang disarankan:

Asuransi-murni konvensional. Termasuk di sini program Jaminan Kesehatan Nasional dari BPJS.

Asuransi-murni syariah. Cari yang tanpa bagi hasil dari dana tabarru, karena dana tabarru itu sedekah yang mestinya tidak ditarik kembali walaupun sedikit.

Unit-link syariah. Sebaiknya dengan tujuan untuk mendapatkan perlindungan, bukan investasi, karena jika tujuannya investasi (entah untuk pendidikan, pensiun, atau keperluan lainnya), manfaat perlindungannya akan lebih kecil dan dikhawatirkan bisa muncul perasaan rugi jika tidak bisa melanjutkan pembayaran premi di tahun-tahun awal.

Demikian. Semoga bermanfaat. Saya terbuka untuk segala masukan, saran, kritik, demi penyempurnaan artikel ini. Sumber tulisan: http://myallisya.com/2015/08/04/hukum-asuransi-konvensional-benarkah-haram/#comment-1674

Daftar Bacaan:

Amrin, Abdullah, Meraih Berkah Melalui Asuransi Syariah, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011.

Ayub, Muhammad, Understanding Islamic Finance A-Z Keuangan Syariah, Jakarta: Gramedia, 2009.

Sula, Muhammad Syakir, Asuransi Syariah (Life and General) Konsep dan Sistem Operasional, Jakarta: Gema Insani, 2004.

Sumanto, Agus Edi, dkk, Solusi Berasuransi Lebih Indah dengan Syariah, Bandung: Salamadani, 2009.

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Hukum Asuransi Konvensional, Benarkah Haram?

  1. Freemaster berkata:

    Asuransi di Indonesia tetap haram, plus untuk Indonesia, yg syariah jg kalo didalami lagi haram juga. Gk boleh mencari2 pembenaran atau ngakal2in definisi demi pendapat seseorang atau sekelompok atau seluruh dunia bisa diterima. Ghararnya jelas, ribanya jelas, kalo judi sih enggak nggak. Kenyataannya sebagian besar ulama dlm negeri, udah bilang haram. Kalo 99% ulama dunia bilang asuransi di Indonesia gk haram, baru saya berubah pikiran. Eh bukannya asuransi sama perbankan haram total yah, kenyataannya asuransi yg benar2 syar’i ada lokh, bank yang non-riba jg buanyak, tp gk di Indonesia. Coba tanya ustad ammi nur baits deh, beliau pakar ekonomi Syariah.

    • Masto berkata:

      Terima kasih telah memberi tanggapan. Sebaiknya dijelaskan secara mendasar beberapa hal sbb: 1. “Yg syariah kalau didalami jg haram” pernyataan ini sebaiknya dijelaskn saja apanya yg didalami dan membuat haram, 2. “Mencari2” dan “mengakalinya” di mana?, 3. 99% seluruh dunia sebagai pembenar ini dasarnya apa? Apakah dikira ijma ulama saat ini mesti semacam itu? 4. Kenapa mesti tanya ustadz Ammi? Bukankah Anda pakar? Atau mungkin barangkali merasa begitu? Buktinya bisa membantah2 argumentasi pada tulisan ini. Hanya saja saran saya beri argumen yg matang. Jika tidak sebaiknya menahan diri dan menghargai pendapat org lain saya kira lebih baik. Bahkan banyak pakar ekonomi syariah selain ustadz Ammi yg berpendapat halal juga. Apakah Ustad Ammi didukung 99% ulama dunia seperti yang Anda syaratkan sehingga Anda percaya dan merekomendasikan? Mohon maaf. Sekali lagi terima kasih telah berkomentar. Saya sepenuhnya menghargai pendapat Anda jika memang tidak sependapat dgn tulisan ini. Salam

  2. Masto berkata:

    Mohon maaf sekedar tambahan diskusi: Saya khawatir Anda tidak membaca tulisan di atas secara tuntas. Atau bahkan hanya membaca judul dan beberapa baris pertama saja kemudian langsung berkomentar. Jadi yang keluar adalah pendapat sepihak atas dasar sentimen, bukan diskusi produktif. Mohon maaf jika saya salah. Saya hanya memperkirakan saja melihat komentar Bapak. Sekali lg mohon maaf jika saya salah. Trims

    Salam hormat,

    Tohirin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s