Yuk Jadi Agen Asuransi!

agen asuransi“Bagi temen-temen yang punya info lowongan pekerjaan wilayah JABODETABEK tolong kabari, ya”. Demikian pesan broadcast BBM dari salah satu mahasiswa yang baru lulus belajar. Hampir seminggu sekali saya turut mendapat pesan itu. Setelah beberapa kali mendapat pesan itu akhirnya saya balas: “Ada nih, lowongan menjadi agen asuransi. Berani menerima tantangan ini?” Tak berapa lama saya pun mendapat balasan: “Saya sudah pernah coba tapi tidak berhasil, Pak.”
Anak ini tentunya anak yang rajin ya. Memang setelah lulus ujian kan tinggal cari kerja. Memang apa salahnya cari pekerjaan? Asal belum dapet kerja tentunya harus getol mencari pekerjaan. Pokoknya persis Si Doel Anak Sekolahan, deh. Kalau perlu tiap hari keliling bawa ijazah.

Sekilas memang tak ada yang salah. Tapi sebenarnya bukannya tidak ada yang salah. Tapi semuanya sudah salah kaprah. Saya sendiri salut melihat sepak terjang sarjana yang macam ini. Tapi sekaligus saya juga sedih dan tak habis pikir.

Bagaimana mungkin setelah belajar sedemikian lama malah semakin bergantung pada pekerjaan. Bukannya tujuan utama pendidikan adalah untuk menciptakan manusia kreatif yang salah satu indikasinya dia tidak bingung cari kerja, bahkan bisa menciptakan lapangan kerja?

Tapi anehnya, saat ditawari pekerjaan juga tidak mau. Jadi agen asuransi kan juga pekerjaan. Terbuka luas untuk siapa pun. Soal penghasilan jangan tanya. Ada yang sebulan seratus juta, ada yang tiga ratus juta, ada yang lebih bahkan. Saudara-saudara kita di Menowo, Magelang malah kerjanya suma nge-blog. Penghasilan ada yang lima juta, sepuluh juta, bahkan ada yang lebih. Padahal mereka bukan lulusan perguruan tinggi coba.

Jadi sebenarnya pekerjaan ada ya. Tapi pilih-pilih pekerjaan. Simpelnya yang dimaksud bekerja adalah menjadi karyawan, baik di perusahaan swasta maupun di pemerintah (menjadi PNS). Yang penting kerja tetap yang tidak ribet meskipun gaji juga pas-pasan. Terlebih lagi yang bergengsi. Yah, bekerja kantoran itu bergengsi, apalagi jadi PNS. Bahkan jadi karyawan pabrik juga lumayan bergengsi karena pakai seragam. Padahal pendapatan kalah sama penjual nasi uduk. Pokoknya yang penting necis.

Makin tinggi pendidikan terkadang bukan berarti makin banyak ilmu, tapi yang jelas nambah adalah gengsinya. Kalau sudah sarjana menganggap sudah setengah sukses. Makanya tak mau susah-susah berjuang lagi. Apalagi suruh jualan asuransi. Malu. Pokoknya tidak gagal lagi, tidak mau ditolak orang.

Nah, makanya mahasiswa di atas itu tadi bilang tidak mau jadi agen asuransi. Sudah pernah coba tapi tidak sukses. Saya tahu persis. Pasti tidak benar-benar menjalankan bisnis asuransi. Tapi Cuma coba-coba saja. Mungkin iya, daftar, kemudian menawarkan ke satu dua orang, kemudian ditolak. Abis itu malu kan, nggak mau lagi nawarin. Masa sarjana jualan asuransi?

Akhirnya pilih cari kerja kantoran. Apa saja yang penting bergengsi. Baju necis, sepatu necis, pakai dasi. Gaji pas-pasan juga tidak apa daripada malu dikatain sarjana kok jualan asuransi. Itulah yang saya bilang hanya gede gengsinya saja. Teori sukses sebenarnya mah banyak dia kuasai. Masalahnya sukses itu bukan teori. Tapi praktik, melakukan, ditolak, bangkit lagi, teruss… hingga sukses. Bagiamana cara jadi agen asuransi? klik DI SINI. Demikian, semoga bermanfaat.[]

Salam Hormat,

Tohirin
Kandidat doktor Universitas Ibn Khaldun, Bogor
Agen Asuransi Allianz Syariah
Hp. 081906091083
PIN BB : 53E91F32

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Agen asuransi dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s