6 Hal yang Sering Disalahpahami Saat Beli Asuransi

salah paham asuransi

Pahami Asuransi Sebelum Membeli

Tak jarang saya membaca beberapa tulisan di internet yang menyatakan kekecewaanya pada asuransi. Setelah saya cermati, kekecewaan itu umumnya sebenarnya karena kekurangpahaman atau lebih tepanya kesalahpahaman nasabah terhadap asuransi. Kesalahpahaman ini jika dirunut sumbernya tentu saja beragama. Ada yang merupakan kesalahan nasabah itu sendiri dan ada juga yang merupakan kelalaian dari agen asuransi. Nah, untuk mengindari kesalahpahaman itu, berikut ini saya ulas hal-hal yang sering disalahpamai nasabah saat beli asuransi.

Pertama, asuransi disamakan/dianggap menabung
Banyak orang yang masih salah paham antara asuransi dan nabung. Uang pembayaran asuransi (premi) dianggap seperti nabung sehingga asumsinya bisa diambil sewaktu-waktu butuh. Ini adalah pemahaman yang keliru. Asurani berbeda dari nabung. Beda niat dan beda tujuannya. Manfaatnya tentu saja juga berbeda. Asuransi tujuannya adalah untuk memproteksi kondisi diri dari resiko (terutama kematian dan sakit) yang tak terduga datangnya. Resiko semacam ini tidak bisa diantisipasi dengan menabung. Misalnya kita ingin menyiapkan dana darurat untuk persiapan jika sewaktu-waktu kita sakit, terutama yang membutuhkan biaya besar.

Kemudian kita mulai menabung. Tapi baru berjalan seminggu misalnya kita terserang sakit kritis. Jantung misalnya. Coba bayangkan apakah tabungan kita selama seminggu sudah mencukupi? Berbeda dengan asuransi, sekali kita sudah terdaftar sebagai anggota asuransi. Misal saja kita ambil setoran sebulan 1 juta, dengan manfaat asuransi 500 juta saat sakit kritis. Walapun baru seminggu kita daftar, maka uang 500 juta itu sudah tersedia dan bisa dicairkan. Namun demikian, setorang asuransi tidak bisa diambil sewaktu-waktu seperti tabungan. Kalau ingin seperti itu nabung saja. Tapi manfaat dan tujuannya tentu saja berbeda dengan asuransi.

Kedua, janji investasi yang muluk-muluk
Untuk produk asuransi jenis Unit Link memang menggabungkan antara asuransi dengan investasi. Dengan cara ini nasabah tidak hanya berasuransi, tapi juga sekaligus berinvestasi. Dengan demikian, pada tahun-tahun tertentu (terutama setelah tahun kesepuluh) hasil investasi bisa saja besar. Bukan hanya balik modal, tapi untuk berlipat.

Inilah salah satu daya tarik yang sering dikedepankan agen pada saat menjual asuransi. Ironisnya, agen tidak menjelaskan bahwa semua itu barulah prediksi sehingga calon nasabah salah paham, mengira bahwa return investasi itu pasti. Akibatnya, niat utamanya justru bukan untuk asuransi, tapi lebih pada investasinya alias ingin mendapatkan imbal balik investasi yang besar seperti yang ditunjukkan agen dalam ilustrasi.

Ini adalah sebuah kesalahan. Memang betul bahwa dalam produk tersebut ada return investasi. Tapi bagaimana pun berasuransi harus dengan niat utama dan mengedepankan tujuan asuransinya. Dan satu hal yang harus diperhatikan dan dipahami adalah bahwasanya hasil investasi di mana pun tak ada nilai pasti. Semuanya bergantung pada banyak kondisi yang mempengaruhi perekonomian suatu negara yang tentunya akan berdampak pada return investasi.

Ketiga, masalah cuti bayar premi
Selain manfaat investasi, daya tarik lainnya dari produk jenis Unit Link/TAPRO adalah adanya fasilitas cuti premi. Bahkan cuti premi ini bisa disengaja dari awal. Maksud saya misalnya seorang nasabah mau bayar asuransi selama 10 tahun saja. Tapi kemudian pertanggungan asuransinya berjalan hingga 100 tahun. Dengan kata lain, hanya bayar 10 tahun mendapat perlindungan asuransi seumur hidup. Menarik kan?

Di sini perlu saya luruskan. Memang benar nasabah hanya cukup seantor 10 tahun. Tapi pada tahun selanjutnya bukannya ia tidak bayar. Nasabah sebenarnya tetap bayar. Lalu darimana pembayaran itu/ Pembauyaran itu adalah melalui hasil investasinya yang terkumpul selama 10 tahun tadi dan terus diputar hingga 100 tahun.

Namanya juga investasi, seperti telah saya singgung di atas, maka tidak ada yang pasti. Jadi kalau suatu saat return investasi rendah dan tidak cukup untuk menutup pembayaran asuransi maka otomatis nasabah harus setor lagi jika ingin melanjutkan asuransinya. Tapi memang betul, besar kemungkinan memang pembayaran 10 tahun itu cukup, jika agen membuat ilustrasi dengan benar.

Tapi saya sendiri punya saran, sebaiknya jangan ambil cuti dari awal. Bicara untung rugi, maka lebih untung flat saja untuk bayar terus. Perkara di tengah jalan misalnya mau cuti ya tinggal cuti saja. Lebih detailnya klik di sini: CUTI PREMI DAN KONSEKUENSINYA.

Keempat, tentang asuransi kecelakaan
Pada asuransi jiwa jenis TAPRO/Unit Link, ada tambahan asuransi yang disebut dengan ADDB (Acident Death and Disability) = asuransi meninggal dan cacat tetap karena kecelakaan. Tapi pada praktiknya, seringkali disebutkan sebagai asuransi kecelakaan. Nasabah memahami bahwa sewaktu-waktu dia kecelakaan maka akan ditanggung asuransi.

Padahal tidak demikian. Yang ditanggung asuransi adalah “MENINGGAL” atau “CACAT TETAP” – nya. Jika nasabah tidak mengalami kondisi ini maka tidak ada pertanggungan dari asuransi. Untuk cacat tetap sendiri ada kriterianya tersendiri yang harus dipahami (ada dalam buku polis). Jika yang dibutuhkan adalah asuransi kecelakaan, maka nasabah harus ambil yang khusus kecelakaan. Sementara ini kalau di Allianz produk ini ada pada asuransi umum.

Kelima, tentang asuransi cacat tetap total
Pada fitur asuransi jiwa TAPRO/Unit Link ada manfaat tambahan yang disebut denganTPD (Total Permanent Disabiity) = cacat tetap total. Tapi pada praktiknya sering dipahami sekilas dengan “CACAT” saja sehingga nasabah menanggap jika sewaktu-waktu cacat maka ditanggung asuransi. Padahal yang dimaksud di sini adalah “CACAT TETAP TOTAL”. Bukan sembarang cacat. Mengenai criteria cacat tetap total ini pun ada kriterianya tersendiri (dijelaskan dalam buku polis).

Keenam, plafon dan ketentuan yang ditanggung dalam asuransi kesehatan
Ini terjadi ketika nasabah ambil asuransi kesehatan/rawat inap, baik yang murni maupun yang digandeng dengan asuransi jiwa. Banyak yang menganggap bahwa kalau sudah punya asuransi jika sewaktu-waktu berobat semuanya ditanggung asuransi, apapun jenis penyakitnya, berapa lama pun dirawatnya, dan sebesar apa pun biayanya.

Padahal setiap jenis produk asuransi kesehatan telah menetapkan ketentuang dan plafon tertentu baik berkenaan dengan jenis penyakit, lama rawat, dan besar biaya yang ditanggung. Tentang batasannya masing-masing jenis produk dan masing-masing perusahaan asuransi mempunya i ketentuan yang berbeda-beda. Jadi harus dicermati terlebih dahulu produk yang akan kita beli sehingga sesuai dengan kebutuhan yang kita maksudkan.

Demikian. Terima kasih telah berkenan membaca tulisan: 6 Hal yang Sering Disalahpahami Saat Beli Asuransi ini. Semoga bermanfaat.[] Mau coba dibuatin ilustrasi sesuai usia Anda? Klik di sini: ILUSTRASI ASURANSI

Jika butuh bantuan, silahkan hubungi saya:

Tohirin
081906091083, PIN BB: 53E91F32

Iklan

Tentang Masto

Agen asuransi ALLIANZ
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi, Tips dan Trik dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s